Selamat datang di www.wartamaranatha.blogspot.com - Memberitakan Injil dan Mendewasakan Kerohanian
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2011

Perempuan Sundal Yang Memikirkan Keselamatan Diri dan Keluarganya

YOSUA 2:1-13

Perempuan Sundal seperti Rahab adalah orang yang hidup dalam dosa perzinahan. Dan setiap dosa mendatangkan hukuman Allah. Namun Rahab menyadari bahwa dirinya memerlukan keselamatan bukan bagi dirinya saja, tapi juga bagi keluarganya.

1. Rahab Perempuan Sundal di Yerikho.

Nama Rahab berarti Orang yang memburu kepuasan daging/hawa nafsu. Dan Yerikho berarti Kota kembang. Indah tetapi harus dibinasakan Allah. Dua pengintai yang diutus oleh Yosua untuk mengintai kota Yerikho. Dua pengintai adalah bicara tentang firman Allah dan Roh Kudus. Untuk menyelamatkan bagi yang percaya, dan membinasakan orang yang tidak percaya. Mazmur 94:23 “Ia akan membalas kepada mereka perbuatan jahat mereka, dan karena kejahatan mereka Ia akan membinasakan mereka; TUHAN, Allah kita, akan membinasakan mereka.” Bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah kita sedang memburu kepuasan daging/hawa nafsu? Bagaimana dengan hidup nikah kita; Pekerjaan kita; Pergaulan kita? Apakah ditandai dengan kekudusan atau dosa?

2. Yang Diketahui Oleh Rahab:

Rahab mengetahui tentang beberapa hal, yaitu:
a) Tanah Kanan oleh Tuhan akan diberikan kepada bangsa Israel.
b) Kengerian terhadap Israel datang atas penduduk Yerikho/Kanaan. Sebab mereka mendengar apa yang dibuat Tuhan. Tuhan mengeringkan laut Kolsom/Tebarau.
c) Tuhan telah membinasakan raja Sihon dan Og raja-raja orang Amori. (Bil.21:21-35).
d) Tuhan Allahmu adalah Allah di langit, diatas dan dibumi, dibawah (Allah yang Mahabesar) Yosua 1:11.

Hal-hal inilah yang membuat Rahab menyadari pentingnya

keselamatan bagi dirinya, ia tidak mau binasa. Ia perlu keselamatan
dari Allah Israel yang Mahabesar. Bagaimana dengan kita?Kita
adalah manusia berdosa (Roma 3:23) dan pasti binasa dalam
neraka kekal (Roma 6:23). Kita membutuhkankeselamatan dari
Allah. Kebenaran dan kebaikan kita tidak dapat menyelamatkan
kita. Kita perlu seorang Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

3. Tindakan Rahab setelah Rahab menerima dua pengintai di dalam rumahnya:

Setelah Rahab menyadari pentingnya keselamatan bagi dirinya, maka ia-pun bertindak:
a) Ia berhenti melacur – bertobat. Kisah Para Rasul 17:30; 20:21.
b) Ia menyembunyikan dua pengintai. Kalau ketahuan raja Yerikho, ia pasti dihukum. Ini adalah resiko.
c) Dua pengintai disembunyikan di kamar atas.
Kolose 1:18 “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung,
yang pertama dan yang bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia
yang lebih utama dari segala sesuatu.”
d) Pada jendela rumahnya harus selalu ada benang merah – Tanda Keselamatan – Tanda Darah – Korban Kristus.

Galatia 6:14 “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam
salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan
bagiku dan aku bagi dunia.”

Kalau kita memang memerlukan keselamatan, mari kita bertindak,
yaitu bertobat dari segala dosa kita. Dan mari kita datang pada
Kristus. Karena hanya darah Yesus yang sanggup menyucikan kita
dari segala dosa kita.

4. Kerinduan Rahab bukan hanya dirinya sendiri yang selamat,
tetapi untuk seisi rumahnya juga diselamatkan. Lukas 19:9; Kisah Para Rasul 10:48; 16:30-34; 18:8
Kerinduan yang luar biasa, yang dimiliki Rahab. Dia tidak mau selamat sendiri, ia mau keluarganya juga diselamatkan. Bagaimana dengan kita? Kalau kita sudah menerima keselamatan, marilah kita rindu keluarga kita juga diselamatkan. Mari kita beritakan Injil keselamatan! Sehingga setiap keluarga kita percaya kepada Tuhan Yesus dan diselamatkan.

Akhirnya, marilah kita menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa yang membutuhkan keselamatan. Dan sesudah kita diselamatkan, miliki kerinduan untuk seluruh keluarga kita juga diselamatkan. Tuhan Yesus Memberkati.


Pdt. Gersom Sunarto

Minggu, 17 April 2011

BAHAYA DARI KEPUTUS ASAAN

1 RAJA-RAJA 19:9-18

Siapa yang tidak pernah putus asa? Bahkan Alkitab menceritakan pada kita bahwa nabi Elia, yang dipakai Tuhan secara luar biasa, dapat menjadi putus asa! Ya, Elia putus asa dan meminta mati setelah lari dari ancaman un Izebel, permaisuri raja Ahab (19:1-4). Elia ketakutan karena diancam akan dibunuh, melarikan diri kepdang guru dan minta mati kepada Tuhan. Pernah meminta mati saat pergumulan berat Saudara alami? Tentu saja ini bukan sikap yang benar, tetapi tetapi toh kita pernah atau bahakan diantara kita ada yang sedang mengalaminya. Tetapi kisah ini mengingatkan kita untuk TIDAK tetap dalam keputusasaan, mengapa? Pertama, karena Tuhan kita Yesus Kristus tidak akan pernah meninggalkan anak-anakNya! (lebih jelas dalam penjelasan khotbah Saya). Jangan putus asa sebab Tuhan Yesus tetap ada bagi Saudara! Kedua,karena ada bahaya yang menanti kita di balik setiap keputusaan. Keputusaasaan berbahaya bagi kita. Mari kita renungkan apa yang dialami Elia ketika ia ada dalam pergumulan berat hingga mengalami putus asa. Dan kita akan memperhatikan apa yang dikatakan Elia dalam ayat 10 dan 14.

1. Keputusasaan Menyebabkan Kita Salah Menil
ai Allah.
Ketika Tuhan Allah bertanya pada Elia “Apak
ah kerjamu di sini?”, maka Elia menjawab “Bekerja segiat-giatnya bagi Allah!” (lihat ayat 10). Benarkah? Tidak, dia sedang melarikan diri! Elia tidak mengakui kelemahannya, justru balik menyerang Tuhan. Elia berkata bahwa dirinya bekerja sendirian, sedangkan Tuhan tidak berbuat apa-apa! Elia menunjukkan bahwa hanya dia yang bekerja sendiri, lihat saja semua orang Israel murtad, mezbah-mezbahnya diruntuhkan, semua nabi dibunuh dan dirinyapun diancam! Dimana Tuhan saat ini? Ini yang ditanyakan Elia. Elia salah menilai Tuhan. Dia beranggapan bahwa dia hanya bekerja sendirian, Allah tidak peduli! Bukankah ini yang kita alami jika kita menghadapi pergumulan yang berat dan mulai putus asa. Kita merasa bergumul sendirian! Padahal Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan kita bergumul sendiri, Dia ada seperti kehadiranNya dan menanyakan “Apa yang sedang kita kerjakan di sini?” Tinggalkan putus asa, lihat Tuhan tidak membiarkan Saudara bergumul sendiri. Datanglah pada Tuhan Yesus dan sampaikan kondisi Saudara dengan jujur.

2. Keputuasaan Menyebabkan Kita Salah Menilai Kondisi di Sekitar
Kita.
Rasa putus asa menyebabkan Elia memandang pergumulannya sangat berat dan laporannya pada Tuhan-pun jadi tidak tepat bahkan berbeda dengan kenyataannya! Perhatikan laporan Elia dan keadaan yang sebenarnya di bawah ini (ayat 10, 14).


Jangan terus dalam keputusasaan, kita jadi sulit melihat kenyataan yang sebenarnya yang seringkali tidak seburuk yang kita lihat dalam ‘kacamata’ keputusasaan. Bangkit dan bersemangatlah dalam Tuhan Yesus ada kekuatan dan pertolongan!

3. Keputusasaan Menyebabkan Kita Tidak Dapat Melihat Campur Tangan Tuhan Dalam Hidup Kita.
Keputusasaan Elia membuatnya tidak melihat tangan Tuhan yang sejak mulanya menjangkau hidupnya. Bahkan saat Elia takut dan putus asa, Allah sudah mengulurkan tanganNya untuk menolong, sayangnya Elia sudah dibutakan oleh rasa putus asanya. Bukankah murid-murid Tuhan Yesus mengalami hal yang sama ketika perahu mereka digoncang badai dan hampir tenggelam? Mereka juga tidak mampu melihat Tuhan yang datang dan menyebut Tuhan sebagai hantu! Tuhan tahu pergumulan Eli dan Tuhan bertindak! Bayangkan saja malaikat datang dan memberi makanan dan air untuk diminum (19:5). Seharusnya kehadiran malaikat sangat menguatkan Elia, tetapi tidak demikian itu ‘biasa saja’ bagi Elia. Apakah ada makanan dan minuman yang seajaib yang diterima Elia dari Tuhan? (19:6-8)Munculnya ajaib dan dampaknyapun ajaib, Elia dapat berjalan 40 hari ke gunung Horeb! Tapi itu juga nampaknya tidak menguatkan Elia. Terakhir, Tuhan berfirman dan hadir! Elia masih juga putus asa, nampak dari jawabannya pada Tuhan! (19:9-18). Inilah bahaya putus asa. Putus asa menutup mata dan telinga kita untuk dapat melihat campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan dan meninggalkan anak-anakNya! Ini yang Saya temukan di Alkitab dan Saya percayai, seperti halnya Elia tidak pernah ditinggalkanNya! Lihatlah, jika kita ada sampai hari ini, bukankah karena kekuatan dan kasih Tuhan Yesus? Perhatikan, Tuhan hadir dan berbicara kepada kita lewat firmanNya entah saat renungan pribadi atau di gereja. Bukankah Dia menyapa dan menguatkanSaudara?


Ada yang berputus asa hari ini? Awas, keputusasaan menyebabkan kita salah menilai Allah, salah menilai kondisi yang sebenarnya dan menghalangi mata dan hati kita untuk melihat campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Bangkit dan bersemangatlah, karena sebenarnya Tuhan kita, Yesus Kristus, tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita bergumul sendirian. Dia ada bagi Saudara. Bersemangatlah!

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 06 Maret 2011

MENGASIHI PEMIMPIN ROHANI

I Tesalonika 5:12-13, Ibrani 13:7,17

Mengasihi pemimpin rohani merupakan bagian dari nasihat rasul Paulus kepada jemaat Tesalonika. “Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.” Tentunya nasihat ini disampaikan bukan tanpa alasan. Ada latar belakang mengapa nasihat ini disampaikan, yaitu adanya kelompok orang Yahudi yang iri hati dengan menganggap Paulus mengajarkan ajaran sesat demi mendapatkan keuntungan , bahkan mereka terus “mengejar” dan berusaha merusak pelayanan Paulus (Kis 17).


I. Siapa Yang Dimaksud Pemimipin Rohani?

Arti kata pemimpin dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah orang uyang memberi tuntunan/ bimbingan. pemimpin rohani berarti orang yang memberikan tuntunan hal-hal yang rohani. Dan berdasarkan nats yang kita baca, maka kita juga menemukan definisi pemimpin rohani, yaitu orang-orang yang bekerja keras dalam memimpin jemaat; menegor kesalahan; menyampaikan firman Allah. Dan bagi kita, pemimpin rohani menunjuk kepada gembala sidang (Bapak dan Ibu Gembala, red).

II. Mengapa Kita Harus Mengasihi Pemimpin Rohani?
Kita diajar untuk mengasihi pemimpin rohani karena:

1. Pemimpin rohani bekerja keras dalam pelayanan.
Ada tuntutan bagi seorang pemimpin rohani untuk bekerja keras memberikan “yang terbaik” bagi yang dipimpin (jemaat, red). Pemimpin rohani harus “bekerja keras” memberikan bimbingan kepada setiap jemaat yang dilayani, mempersiapkan pelayanan (khotbah dan sebagainya), menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah dalam jemaat. Belum lagi masalah pribadi dari pemimpin rohani itu sendiri.
2. Pemimpin rohani bertanggung jawab atas kerohanian jemaat yang dipimpin. Misalnya: bertanggung jawab atas doktrin yang diajarkan. 3. Pemimpin rohani berjaga-jaga atas jiwa-jiwa dari jemaat yang dipimpin.
Merupakan tugas yang sangat mulia. Sebagaimana Musa yang bersyafaat untuk melunakkan hati Tuhan supaya bangsa Israel tidak dibinasakan oleh Tuhan karena dosa yang mereka perbuat (Kel 32:11).

III. Sikap Mengasihi Pemimpin Rohani

Sikap jemaat dalam mengasihi pemimpin rohani dapat diwujudkan dalam hal:

1. Menghormati.
Artinya ada rasa hormat (menghargai), tidak menganggap rendah atau melecehkan pemimpin rohani ( I Tes 5:12). Musa banyak kali dilecehkan oleh bangsa Israel. Dan hal ini jahat dimata Tuhan. Apapun keberadaan pemimpin rohani kita, mari kita belajar untuk menghormati.
2. Menjunjung Dalam Kasih
“..dengan sungguh-sungguh” merupakan ajakan Paulus untuk menjunjung dalam kasih seorang pemimpin rohani. Artinya kita mau mendoakan karena bagaimananpun juga pemimpin rohani juga manusia, bukan “superman”, mereka butuh doa-doa dari jemaat (2 Tes 3:1, Kis 12:5). Hal ini juga berarti kita harus memperhatikan kebutuhan hidup pemimpin rohani. Jemaat Makedonia mencukupkan apa yang menjadi kebutuhan Paulus sehingga tetap dapat melakukan pelayanan (2 Kor 11:9). Hal ini juga berkenaan dengan hal memberi Persepuluhan (Mal 3:10).
3. Taat dan Tunduk
Sikap mengasihi yang berikutnya, dapat kita tunjukkan dalam hal taat dan tunduk kepada pemimpin rohani. Miryam dan harun (Bil 12), Korah dan teman-temannya (Bil 16) merupakan contoh ketidak taatan dan ketidak tundukan terhadap pemimpin rohani. Dan hal ini berakibat penghukuman bagi mereka. Kalau kita memahami alasan mengapa kita harus mengasihi pemimpin rohani, maka tidak sulit bagi kita untuk menghormati, menjunjung dalam kasih serta mentaati pemimpin rohani kita.

IV. Berkat Dari Mengasihi Pemimpin Rohani

Dalam Ibrani 13:7, kita menemukan berkat bagi yang mengasihi pemimpin rohani:
1. Pemimpin rohani dapat melakukan pekerjaannya dengan gembira (sukacita), bukan dengan keluh kesah. 2. Kita (yang dipimpin), pasti diberkati (mendapat keuntungan) dari pelayanan pemimpin rohani. Akhirnya, marilah kita mengasihi pemimpin rohani kita. Tuhan Yesus memberkati.

Pdm. Dwi Cahyono. S.Th

Minggu, 06 Februari 2011

RAHASIA KEKUATAN IMAN

HABAKUK 1:2-4; 3:17-19


KONDISI HABAKUK
Habakuk mengeluh kepada Tuhan melihat kondisi bangsanya, bangsa Yehuda yang jahat. Ia kebingungan karena Tuhan “seakan” berdiam diri dan tidak bertindak terhadap aniaya, kekerasan, perbantahan, pertikaian yang ada di tengah bangsanya. Mari kita perhatikan beberapa ucapan nabi Habakuk yang disampaikan kepada Tuhan:

a. “Berapa lama lagi...”
Sepertinya ada selang waktu yang cukup lama yang menyebabkan Habakuk merasa tertekan oleh keadaan yehuda. Mungkin juga doa yang dinaikan sudah lama dan belum juga Tuhan menjawab.

b. “Aku berteriak ...”
Ada ungkapan perasaan yang mungkin agak kecewa, marah dan agak “lancang” kepada Tuhan.

c. “Tidak Kau dengar ..., tidak Kau tolong”
Ada nada putus asa karena merasa doanya tidak dijawab Tuhan.

Tetapi dalam kebingungan, habakuk mendapat penjelasan dari Tuhan (1:5-11). Jawaban Tuhan juga menimbulkan kebingungan dan persoalan yang lebih besar. Perhatikan kalimat yang diucapkan Habakuk: “Jika Yehuda mau dihukum itu selayaknya, tetapi kenapa Tuhan memakai bangsa Kasdim, bangsa yang jauh lebih jahat dari bangsa Yehuda.” Tidak heran pengaduan Habakuk diteruskan pada ayat 12-17. Demikian pula dalam kehidupan kita, seringkali ada banyak kebingungan tentang doa yang belum dijawab; dosa yang berkembang; orang fasik yang hidupnya lebih baik dan lain sebagainya. Tetapi sampai pasal yang terakhir, kita dapat melihat Habakuk yang tetap teguh dengan imannya kepada Tuhan. Jikalau kita perhatikan maka ada perubahan kondisi Habakuk dari pasal 1-3:
a. Habakuk mengeluh kepada Tuhan dan mengalami kebimbangan
b. Habakuk sampai di titik menantikan Tuhan, ada pengharapan
c. Habakuk semakin percaya, sehingga ia mengalami ketenangan
d. Habakuk bersorak-sorai kepada Tuhan

Apa Rahasia kekuatan Iman Habakuk ? (3:17-19) Ditengah-tengah kehancuran, dimana seluruh sumber kehidupan bangsanya habis akibat penyerbuan orang Kasdim. (orang Kasdim seperti orang Mesir, ketika menyerang suatu bangsa, maka mereka membakarr, menebang pohon buah-buah. Dalam kondisi seperti itu, habakuk menyerukan suatu kondisi iman yang luar biasa.

RAHASIA KEKUATAN IMAN HABAKUK
I. Habakuk Datang kepada Tuhan
Ditengah kebingungan dan kebimbangan, Habakuk mengambil langkah yang tepat, yaitu datang kepada Tuhan. kebingungan dan kebimbangan apa yang sedang kita alami, datanglah kepada Tuhan dalam doa dan ibadah kepada Tuhan. Jangan datang kepada yang lain.

II. Habakuk Mempercayai Janji Allah (2:3-4)
Allah berjanji tentang suatu waktu dimana akan nyata bahwa orang benar akan hidup oleh imannya dan orang fasik akan dihukum. Itu sebabnya berdiam dirilah dan tenang menanti (2:20; 3:16b). Bagian ini memuntut kita untuk percaya dan menanti dengan setia janji Allah digenapi dalam hidup kita. Jangan putus asa!

III. Habakuk Memahami Benar tentang Allah Yang Berkuasa
Allah adalah gunung batu (1:12), Allah berkuasa atas alam semesta (3:1-15). Habakuk bukan hanya tahu bahwa Allah berkuasa, tetapi Habakuk yakin bahwa kuasa Allah sanggup menolong umatnya (3:12-13). Bagaimana dengan kita? Ditengah masalah,masihkah kita tetap mempercayai kuasa Tuhan sanggup menolong kita?

IV. Habakuk Mengerti bahwa Allah Memberikan Kekuatan Ditengah Kesulitan
Kekuatan Allah yang bagaimana yang Allah berikan kepada Habakuk? Kekuatan ”seperti kaki rusa” yang lincah untuk berjalan mendaki bukit-bukit terjal. Kekuatan untuk dapat naik, berjejak dibukit batu. Kita dimampukan untuk melewati setiap masalah dan tantangan-tantangan hidup.

Dalam segala kebimbangan menghadapi kehidupan ini, marilah kita datang kepada Tuhan, percayai janjiNya, memahami bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa dan percayalah bahwa Allah tidak membiarkan umatNya, Ia pasti memberi kekuatan kepada kita, sehingga kita dapat tetap kuat dalam iman kita

Ibu. Gembala

Sabtu, 22 Januari 2011

MERAIH PERTOLONGAN TUHAN

LUKAS 15:21-28 Tuhan mempunyai waktu tersendiri dalam memberikan pertolongan kepada umatNya. Jika waktuNya Tuhan, maka Tuhan akan melaksanakan rencana dan kehendakNya (Yesaya 46:11). Demikian pula kepada seorang perempuan Kanaan yang memohon pertolonganNya, Tuhan Yesus punya waktu tersendiri untuk menolong. Dalam kisah ini, kita menemukan sikap perempuan Kanaan dalam meraih pertolongan Tuhan :

A. Tidak Putus Asa Atau Tawar Hati.
Demi mendapat pertolongan Tuhan, perempuan Kanaan tidak putus asa, sekalipun Tuhan Yesus “tidak mendengar” seruannya, ditambah dengan murid-murid yang malah menjadi penghalang bahkan mengusirnya. Bagaimana dengan kita? Ketika kita tidak jua mendapat pertolongan Tuhan, jawaban atas doa, apakah kita menjadi putus asa dan tawar hati? Ingat, ketika tawar hati pada masa kesesakan, maka kecillah kekuatan kita (Amsal 24:10). Perempuan Kanaan tidak putus asa, ia terus “melangkah” untuk meraih pertolongan Tuhan.

b. Memiliki Respon Positif Terhadap Setiap Firman Tuhan.
Beberapa kali Tuhan Yesus menyampaikan perkataan-perkataan yang keras dan “menyakitkan” bagi perempuan Kanaan (ayat. 24, 26). Tetapi perempuan tersebut memiliki respon positif. Dia terus mendekat kepada Yesus bahkan sujud menyembah (ayat. 25) bahkan merendahkan diri dengan membenarkan bahwa dirinya memang “anjing” (ayat. 27). Bagaimana dengan kita? Ketika firman Tuhan disampaikan sangat “keras” (menegur, menempelak dosa kita), apakah kita memiliki respon positif? Menerima Firman Tuhan dengan segala kerendahan hati, atau kita menjadi marah bahkan meninggalkan Tuhan.

C. Memiliki Iman Yang Besar
Tuhan Yesus mengakui kebasaran iman dari perempuan Kanaan (ayat. 28). Iman yang mempercayai bahwa Tuhan pasti memberi pertolonganNya, sekalipun mustahil, karena Tuhan memberi pertolongan hanya kepada umatNya, bukan bangsa kafir seperti perempuan Kanaan. Bagi perempuan Kanaan, masih ada “remah-remah”, yaitu pertolongan Tuhan baginya. Dan sebagai akibat dari iman yang besar tersebut, perempuan Kanaan mendapat pertolongan Tuhan dan anaknya disembuhkan (ayat 28).

Pergumulan hidup apa yang sedang kita alami hari ini? Masalah rumah tangga? Pekerjaan? Masa depan? Jangan pernah tawar hati; miliki respon positif terhadap setiap firman Tuhan; dan miliki iman yang besar, maka kita dapat meraih mujizat pertolonganNya bagi kita. Tuhan Yesus memberkati.

Pdt. Setiawan Mulia - Surabaya

Minggu, 16 Januari 2011

KOKOH, BERHASIL & DIBERKATI !

2 Tawarikh 17:1-5, 9-10

Siapa yang tidak ingin kehidupan rohani, keluarga dan pekerjaannya kokoh, berhasil dan diberkati di tahun yang baru ini? Yosafat baru saja diangkat menjadi raja Yehuda menggantikan raja Asa. Ya baru saja, demikian juga kita. Kita baru saja melangkah di tahun baru bukan? Yosafat baru berumur 35 tahun (1 raja-raja 22:41-42), tetapi Tuhan membuatnya kokoh, berhasil dan diberkati (lihat ayat 5, 11-12). Apa rahasianya? Mari kita belajar dari Firman Tuhan di 1 Tawarikh 17 ini.

1. Merencanakan dan Mengatur Hidup, Keluarga dan Pekerjaan (ayat 1-2,12-19).
Ini bukanlah rahasia yang terutama, tetapi ini langkah yang penting yang seringkali kita lupakan! (Saya menempatakan pada nomor pertama karena susunan ayatnya dalam nats ini saja!) Tetapi secara jujur berapa banyak orang Kristen dengan balutan ‘pemikiran’ rohani lalu melupakan perencanaan dan pengaturan! Yosafat merencanakan dan mengatur segala sesuatu untuk mengokohkan kerajaannya secara fisik. Dia membangun kubu-kubu pertahanan, menguatkan pertahanan militer dan mengatur segala hal termasuk perkara ibadahnya (ayat 1-2 band. 12-19). Yosafat merencanakan dan mengatur, namun sekaligus mengandalkan Tuhan dan dia sadar bahwa apa yang dikerjakan adalah bagian dari mengandalkan Tuhan Allah-nya! Kita sering menganggap remeh perencanaan, strategi dan pengaturan atas hidup, keluarga, keuangan dan pekerjaan sehingga kita mengalami kesulitan di depan! Perencanaan dan pengaturan tanpa Tuhan adalah kesombongan yang menghancurkan, tetapi mengandalkan Tuhan tanpa usaha (merencanakan dan mengatur) adalah kemalasan dan kejahatan! Mari di tahun yang baru ini kita mulai mengatur segala sesuatu dalam hidup, keluarga dan pekerjaan kita dengan baik dan tanpa melupakan bahwa Tuhan adalah sumber kekokohan, berkat dan keberhasilan!

2. Mencari TUHAN! (ayat 2-4).
Ini langkah terutama dan paling penting: Mencari Tuhan Yesus! Begitu menjadi raja Yehuda, Yosafat segera mencari Tuhan! Yosafat memahami bahwa hanya Tuhan-lah sumberl kekokohan, keberhasilan dan berkat! Dia telah melihat bagaimana Asa, ayahnya mencari Tuhan dan diberkati Tuhan. Yosafat telah mendengar dan membaca bagaimana raja Daud, leluhurnya dibuat Tuhan kokoh, berhasil dan diberkati! (ayat 3). Bukan itu saja, Yosafat juga tahu bahwa tanpa Tuhan yang ada hanya kehancuran! Yosafat mengerti kisah Rehabeam yang meninggalkan Tuhan dan menuai kegagalan (12: 1-4). Bagaimana dengan Saudara? Mari kita mencari Tuhan. Mencari Tuhan itu pertama-tama adalah bersekutu dengan Tuhan baik secara pribadi maupun bersama-sama dengan saudara seiman (keluarga dan jemaat). Ayo tahun ini kita bangun kembali persekutuan doa pribadi kita dengan Tuhan, mezbah keluarga dan beribadah. Kedua, beribadah dengan setia. Mari kita berkomitmen setia kembali di tahun ini bahkan lebih setia lagi! Terakhir, beribadah dengan sungguh-sungguh. Betapa lucunya jika kita beranggapan Tuhan dapat kita tipu dengan hanya hadir saja di gereja, dikebaktian, tetapi kita tidak memuji Tuhan dan mendengarkan FirmanNya dengan sungguh-sungguh dan kita berpikir bahwa kita sudah beribadah! Betulkah ini mencari Tuhan? Sebab itu bersungguh-sungguhlah beribadah di tahun 2011 ini! Carilah Tuhan di tahun ini dan Dia akan membuat kita kokoh, berhasil dan diberkati!

3. Menaati Perintah TUHAN! (ayat 4, 6).
Yosafat tidak hanya mencari, tetapi mentaati perintah Tuhan. Dia berjalan menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan (ayat 6) dan Tuhan membuatnya kokoh, berhasil dan diberkati. Ketaatan pada Tuhan kita Yesus Kristus selalu mengantar kita pada kekokohan, keberhasilan dan berkat-berkatNya! Perhatikan tahun lalu, bukankah saat kita tidak taat pada Tuhan Yesus, disitulah kita terjatuh dalam berbagai persoalan, pergumulan dan berakhir dengan keterpurukan? mari di tahun ini kita mau belajar terus melangkah dalam ketaatan pada Kristus, Tuhan kita!

4. Membawa Orang-orang Disekitar Kita Mencari dan Taat pada Tuhan (ayat 7-9).
Yosafat tidak mau mencari dan mentaati Tuhan hanya sendiri saja, dia mengajak keluarganya bahkan seluruh umat Yehuda diajak dan diajar untuk mengenal, mencari dan mentaati Tuhan! Kembali pada Taurat Tuhan, hidup yang mencari Tuhan. Dan Tuhan membuat Yehuda kokoh, berhasil dan diberkati! Bagaimana dengan Saudara? Di tahun yang baru ini mari kita ajak orang-orang disekitar kita mencari dan taat pada Tuihan Yesus. Mulailah dengan keluarga Saudara! Doakan, ajak dan ajar mereka untuk mengenal Tuhan Yesus, untuk mencari Tuhan dan menaati Dia. Betapa indahnya bila tahun ini semua keluarga kita bersama-sama beribadah, bersama-sama menaati Tuhan Yesus. Dan lihatlah Tuhan Yesus membuat kita kokoh, berhasil dan diberkati untuk kemuliaanNya.

Buatlah komitmen hari ini untuk mencari Tuhan Yesus, menaati perintahNya, membawa serta keluarga kita dan merencanakan serta mengatur hidup, keluarga, pekerjaan dengan Tuhan di atas segala-galanya. Jangan terkejut apabila kita mendapati diri kita, keluarga dan pekerjaan kita kokoh, berhasil dan diberkati! Tuhan Yesus memberkati.

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Sabtu, 08 Januari 2011

HARI DEMI HARI, ALLAH MENANGGUNG BAGI KITA !

Mazmur 68:20

Inilah kebenaran yang dinyatakan Tuhan bagi kita: “Terpujilah Tuhan,! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita!” Wow, hati Saya sangat terangkat. Bagaimana dengan Saudara? Pemazmur, Daud , mengajak kita memuji Tuhan berdasarkan pada alasan yang tidak akan berbuah, yaitu karena Tuhan menanggung hidup kita setiap hari! Apakah Saudara dapat memuji Tuhan hari ini? Lihatlah tahun lalu Tuhan menanggung kita dan janji ini berlaku untuk tahun baru yang sementara kita lewati. Ada 3 kebenaran yang diajarkan Tuhan bagi kita melalui ayat ini.

1. ALLAH-lah yang menanggung bagi kita hari demi hari!.
Daud mengakui dan mengajak kita memuji Tuhan karena hal ini! Nampaknya Daud sudah menjadi raja saat menuliskan nyanyian ini (band. ayat 1-3). Namun Daud sadar BUKAN kekayaan, kekuasaan, kepandaian, pengalaman, tentaranya dan kemampuannya sendiri yang telah membuat hidupnya aman dan berhasil, tetapi karena TUHAN yang menanggung hidupnya! Bagaimana dengan Saudara? Lihat Allah yang menanggung hidup kita! Daud memberikan kita penjelasan bagaimana Tuhan-Nya, Tuhan kita dalam Kristus Yesus, yang menanggung hidupnya. Pertama, Allah Daud adalah Allah yang dahsyat dan perkasa! (ayat 1-3, 8-9, 18-19). Daud melukiskan bahwa Allah adalah Panglima perang sorga yang gagah perkasa. Ketika Dia bangkit, terserak musuhNya, gentar langit dan bumi dan ini menunjukan kesanggupanNya, kemahakuasaanNya! Tuhan Allah kita, Tuhan Yesus Kristus dahsyat dan perkasa bukan? Allah yang mahakuasa-lah yang menanggung hidup kita. Kedua, Allah yang penuh kasih sayang (ayat 3-7). Daud menjelaskan dan beralih dari Allah yang dahsyat, Allah sekaligus Allah yang peduli dan penuh belas kasihan. Lihat saya Dia adalah Bapa bagi para yatim dan ‘suami’ bagi para janda. Allah adalah pembebas dan pemberi yang murah hati! Inilah Allah yang menanggung kita! Allah kita dalam Tuhan Yesus, Allah yang yang mahakuasa! Apa yang tidak sanggup Dia kerjakan? Di sisi lain, Tuhan kita Yesus adalah Allah yang peduli dan mengasihi kita. Jika demikian, apa yang harus membuat kita takut menapaki hari-hari baru di depan? Ingatlah, Tuhan menanggung bagi kita hari demi hari!

2. Allah menanggung kita BUKAN berarti hidup tanpa tantangan!
Daud mengetahui dengan pasti bahwa apabila Allah menanggung baginya BUKAN berarti hidupnya tanpa tantangan. Lihat saja, istilah “musuh” menunjukkan adanya tantangan (ayat 2). Belum lagi istilah ‘yatim’, ‘janda’ dan ‘orang-orang terlantar’ menunjukkan kondisi yang penuh tantangan karena mengalami kekurangan dan tanpa perlindungan (ayat 5-7). Mengikut Tuhan Yesus yang Mahakuasa dan penuh kasih tidak serta merta menyingkirkan tantangan dalam hidup ini. Namun jika Allah dalam Kristus Yesus yang menanggung hidup kita, pasti hidup ini penuh kemenangan! Lihat betapa tahun lalu Tuhan sudah menyatakan bahwa firmanNya ini benar! Mari kita syukuri. Dan sekarang saat kita menatap tahun yang baru ini, mari kita percaya dan bersandar pada Tuhan. Dia-lah yang menanggung kita hari demi hari.

3. Allah menanggung kita SETIAP HARI!
Ini berita yang ajaib: Allah menanggung bagi kita hari demi hari! “Hari demi hari” artinya setiap hari dalam hidup kita! Setiap hari Dia memberi kekuatan dan mensuplai (menyediakan) apa yang kita butuhkan! Setiap hari Dia menopang dan menguatkan, menghibur, mengingatkan, meneguhkan dan memperingatkan! Setiap hari! Tahukah Saudara bahwa sejak dunia diciptakan Allah menanggung segala sesuatu bagi kita? Bahkan saat manusia jatuh dalam dosa. Belum selesai Dia terus menanggung saat manusia harus binasa dalam neraka yang kekal, maka Allah mengutus Tuhan Yesus, AnakNya, untuk mati di kayu salib menanggung kita. Apakah selesai? Tidak, Dia terus menanggung kita dengan kasih dan kuasaNya hingga hari ini bahkan sampai selamanya. Dan itu dikerjakan Tuhan setiap hari! Jika Allah menanggung bagi kita setiap hari dalam hidup kita, apakah yang harus kita kuatirkan? Bukankah kita harus semakin dekat dengan Tuhan kita Yesus Kristus? Bukankah tidak seharusnya kita mudah ‘kalah’, putus asa dan undur dari Tuhan? Ingatlah, hari demi hari Tuhan menanggung bagi kita!

Selamat Tahun Baru, selamat menikmati kuasa dan kasih Tuhan Yesus setiap hari!

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 19 Desember 2010

MENYAMBUT NATAL

LUKAS 2:8-20

Natal sudah hampir tiba dimana-mana nampak pohon Natal, hiasan-hiasan dan pernak-pernik Natal. Natal sebenarnya adalah memperingati kasih Allah bagi manusia yang berdosa, dimana Allah bapa mengutus AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia, termasuk kita! (band. Yohanes 3:16). Jadi, jika ini dipahami , maka tidak perlu ragu memperingati kelahiran Tuhan Yesus atau Natal. Namun yang menjadi pertanyaan bagaimana kita harus menyambut Natal? Mari kita belajar kepada para gembala di padang yang menerima kabar tentang Natal, tentang kelahiran Kristus yang pertama.

1. BERSUKACITALAH !
Para gembala ketakutan ketika menerima berita baik dari para malaikat. Mereka seperti lazimnya orang-orang Perjanjian Lama melihat kehadiran Allah, selalu ketakutan. Tetapi sesudah menemukan bayi Yesus, mereka bersukacita. Ya, jiwa dari Natal adalah sukacita! Apakah Saudara bersukacita? Jangan Natal diisi dengan kedukaan dan hal-hal yang mendukakan, misalnya pertengkaran! Natal sudah seharusnya mendatangkan sukacita bagi kita! Ada 2 alasan yang penting mengapa kita harus bersukacita. Pertama, kita harus bersukacita karena Tuhan Yesus, Sang Juruselamat telah hadir bagi kita! Bisa saja kita tidak memiliki apa-apa menyambut hari Natal ini, namun sebenarnya kita memiliki hadiah yang termahal dan terindah tiada duanya, yaitu: KESELAMATAN DALAM TUHAN YESUS! Tuhan Yesus sudah datang ke dunia dan mati di kayu salib menebus dosa kita! Ini sudah dikerjakanNya bagi kita. Itu sebabnya bersukacitalah. Kedua, kita bersukacita karena TUHAN, Sang Pencipta dan Pemilik alam semesta telah datang pada kita, umatNya. Artinya, kita tidak perlu kuatir karena Tuhan kita, Yesus hadir bagi kita, menyertai kita! Kita dapat datang ke hadiratNya dan menantikan pertolonganNya bagi kita. Tidakkah kita bersukacita atas perkara yang ajaib ini?

2. BERIBADAHLAH !
Para gembala segera mencari bayi Yesus, sesudah mendengar kabar tentang kehadiranNya (ayat 15). Bukan saja mencari, Alkitab menegaskan para gembala “cepat-cepat berangkat dan menjaumpai” Maria, Yusuf dan bayi Yesus! (ayat 16). Ada kerinduan dan anggapan bahwa perjumpaan ini penting. Natal bukan sekedar hura-hura dan perayaan yang tanpa makna, tetapi saatnya kita untuk mencari Tuhan, beribadah kepadaNya! Apakah kita menganggap perjumpaan dengan Tuhan Yesus itu penting? Jika ya, mari kita sambut Natal dengan beribadah, Jangan malas ataupun undur. Bukankah Natal adalah kasih Allah mencari yang terhilang? Kasih Allah menjangkau yang ‘jauh’ seperti kita? Itu sebabnya jangan lewatkan kasih Allah. Mari kita nikmati Natal tahun ini dengan mencari Tuhan Yesus, dengan beribadah, doa, baca Alkitab, melayani, mempersembahkan waktu dan talenta kita bagi Dia, Tuhan Yesus yang sudah menebus hidup kita.

3. BERITAKANLAH !
Para gembala bukan hanya mencari bayi Yesus, tetapi juga menceritakan bagaimana pesan Tuhan melalui para malaikat kepada mereka (ayat 17-18 band. 20). Mereka menceritakannya kepada banyak orang yang saat itu tidak tahu mengenai bayi Yesus! Bayi Yesus adalah Juruselamat, Kristus dan Tuhan (ayat 10-11). Bayi itu mendatangkan kedamaian di bumi dan keselamatan bagi manusia! Menyambut Natal, mari kita beritakan bahwa Tuhan Yesus adalah TUHAN dan uruselamat! Inilah tugas kita di hari Natal! Jangkau keluarga dan teman-teman kita dengan kabar baik ini bahwa “ Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan!” (ayat 10). Mari kita wartakan juga bagi semua orang seperti para gembala yang memuji-muji Allah (ayat 20).

Nah, bagaimana Saudara menyambut Natal? Rumah yang dihias indah dengan pernak-pernik Natal, baju baru, makanan yang enak-enak? Boleh, boleh... kalau memang ada. Tetapi yang terpenting bukan itu. Bersukacita bersama keluarga, teman, jemaat dan sesama, beribadah dengan sungguh dan memberitakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat adalah menyambut Natal yang sesungguhnya. Saya kira saatnya Saya memberi selamat: “Selamat menyambut Natal, Tuhan Yesus memberkati!”

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 28 November 2010

Penyembuhan Orang Lumpuh Di Kolam Bethesda

YOHANES 5:1-17

Tuhan Yesus berangkat ke Yerusalem dan berada di kolam Bethesda, yang artinya rumah kemurahan. Di situ ada banyak orang sakit yang berkumpul di dekat kolam Bethesda. Mereka menunggu kalau air kolam itu digoncangkan malaikat Tuhan, maka mereka akan terjun ke kolam dan disembuhkan penyakitnya. Jadi, orang-orang sakit itu ‘bersaing’ satu dengan yang lain untuk mendapat kesembuhan. Seperti halnya dunia ini yang penuh dengan persaingan hidup. Di situ ada orang yang lumpuh sudah 38 tahun. Tuhan Yesus melihat dan menghampiri orang yang lumpuh itu.

I. Tuhan Yesus Memperhatikan Orang Lumpuh ( 5:5-7)
Tuhan Yesus bertanya kepada orang lumpuh: “Maukah engkau sembuh?” Pertanyaan Tuhan Yesus merupakan tawaran bagi orang lumpuh untuk sembuh. Orang lumpuh tidak mendapat kesempatan untuk turun ke dalam kolam bahkan tidak ada yang memperhatikannya. Tetapi Tuhan Yesus memeperhatikan orang lumpuh. Demikian pula dalam kehidupan kita, sekalipun tidak ada orang yang memperhatikan kita, namun Tuhan memperhatikan kita.

II. Keajaiban Melalui Kuasa FirmanNya (5:8-9)
Tuhan berkata kepada orang lumpuh: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Melalui firmanNya, Tuhan membuat keajaiban sehingga orang lupuh dapat berjalan, bahkan bukan hanya berjalan tetapi juga dapat mengangkat tilamnya. Luar biasa pekerjaan firman Tuhan. Karena firman Tuhan a. Menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (Roma 4:17)
b. Menyembuhkan yang sakit.
c. Menghidupkan orang yang mati
d. Mengubahkan hidup (I Petrus 2:2)

III. Ijinkan Tuhan Yesus Bertahta Dalam Hati Kita (5:10-13)
Ketika orang lumpuh menerima keajaiban kesembuhan, ia bersukacita, tetapi ia lupa siapa orang yang telah menyembuhkannya (ay. 13), bahkan Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak. Ketika kita diberkati Tuhan, jangan biarkan Tuhan Yesus “menghilang” dari hati kita. Ijinkan Tuhan Yesus selalu bertahta dalam hidup kita.

IV. Saksikanlah Pertolongan Tuhan! (5:14-15)
Orang lumpuh yang telah disembuhkan masuk ke dalam Bait Allah dan bertemu dengan Tuhan Yesus. Kesembuhan yang diperoleh digunakan untuk datang ke Bait Allah. Di dalam bait Allah, Tuhan Yesus berpesan supaya tidak berbuat dosa lagi. Rupanya orang lumpuh tersebut sakit karena dosa yang diperbuatnya. Demikian dengan setiap kesembuhan, pertolongan Tuhan digunakan untuk memuliakan Tuhan dalam baitNya, bertobat dan hidup benar sesuai dengan firman Tuhan. Orang lumpuh yang disembuhkan keluar dan menceritakan tentang Yesus yang menyembuhkannya. Demikian pula saharusnya setiap orang percaya menyaksikan Tuhan Yesus yang menyembuhkan dan menyelamatkan. Tuhan Yesus yang menguduskan kita dengan darahNya sendiri (Ibrani 13:12-13).

Akhirnya, marilah kita bersyukur bahwa Tuhan Yesus memperhatikan kita; Dia menyatakan keajaiban kuasa melalui firmanNya; Ijinkan TuhanYesus bertahta di hati kita; dan ceritakan /saksikan pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita. Karena Tuhan Yesus sendiri memberi teladan dengan terus bekerja sekalipun orang Yahudi berusaha menganiaya. Karena Bapa bekerja sampai sekarang, demikian pula Tuhan Yesus, demikian pula kita umatNya. Tuhan Yesus memberkati.

Pdt. Gersom Sunarto - Kupang- NTT

Minggu, 21 November 2010

KARYAWAN KRISTUS

Kolose 3:22-25Setiap pekerja yang percaya Tuhan Yesus adalah pekerja Kristus! Ini yang disampaikan Paulus dalam suratnya kepada jemaat Kolose. Di satu sisi kita bekerja pada orang lain atau mengerjakan suatu pekerjaan, di sisi lain kita adalah pekerja Kristus! (ayat 24). Hal ini menunjukkan dua kebenaran penting, yaitu: (1) Bekerja adalah Ibadah kepada TUHAN. Banyak orang salah dengan beranggapan bahwa pekerjaan bukanlah hal yang rohani. Mereka beranggapan “gereja ya gereja, kerja ya kerja”, keduanya terpisah, sehingga kalau digereja benar dan penuh kasih, kalau dipekerjaan ‘boleh’ saja tidak dalam kebenaran dan tanpa kasih. Perhatikan bahwa pekerjaan dihubungkan dengan TUHAN pada Kolose 3:22-4:1 ini! (2) Tempat kerja adalah ‘ladang pelayanan’ untuk memuliakan Kristus dan memberitakan Injil. Karena kita adalah pekerja Kristus, maka sudah seharusnya kita menjadi pelayanNya di tempat kerja. Jadikan tempat kerja kita ‘lahan’ untuk memuliakan dan memberitakan Tuhan kita Yesus Kristus. Dan jadilah pekerja Kristus yang menjadi kesaksian dan bersaksi.

BAGAIMANA SIKAP KARYAWAN KRISTUS YANG MENYENANGKAN HATINYA?
Apabila kita sudah memahami bahwa kita bukan saja pekerja di mana kita bekerja, tetapi juga adalah pekerja Kristus, maka kita diajar Tuhan melalui Paulus bagaimana sikap seorang pekerja Kristus di dalam pekerjaannya.

1. Taat kepada pimpinan dalam segala hal (ayat 22).
Sikap pertama sebagai pekerja Kristus, kita harus taat pada pimpinan kita di tempat kerja! Taat pada pemimpin, majikan, bos atau pemimpin rohani (gembala sidang bila dalam gereja) di tempat kita kerja. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai menaati pemimpin di tempat kerja ini. Pertama, ketaatan merupakan keharusan selama itu BUKAN dosa. Memang, hal ini terkadang sulit, namun tuntutan kita sebagai pekerja Kristus harus lebih diutamakan. Jika tugasnya adalah berbuat dosa, misalnya mencuri, menipu, melakukan kekerasan dan perbuatan dosa lainnya, maka sudah pasti kita harus lebih taat pada Tuhan bukan? Kedua, taat dengan tulus hati. Ketaatan bukan ‘alat’ untuk mencari muka. Tetapi memang tulus karena selain pekerja di tempat kerja itu, kita pekerja Kristus lho. Dengan tulus juga berarti taat dan hormat baik di hadapan tuan (baca: pimpinan atau bos) maupun dibelakangnya! Ketiga, taat karena didorong takut akan Tuhan. Ketaatan yang benar adalah karena kita sadar bahwa TUHAN senantiasa melihat hidup kita. Kita selalu ada di hadapan TUHAN! Sehingga sudah sepatutnya kita taat dan hormat pada pimpinan karena TUHAN melihat sikap hidup kita.

2. Bekerja dengan memberi “yang terbaik”! (ayat 23).
“Bekerjalah seperi untuk Tuhan bukan untuk manusia” kata Paulus! Sebagai pekerja Kristus sudah semestinya kita bekerja dengan sebaik-baiknya. Apapun pekerjaan dan bidang kita berikan yang terbaik bagi TUHAN. Kata “seperti”, tidak dimaksudkan hanya seolah-olah. Ingat, dalam bekerja sebenarnya kita sedang beribadah kepada Tuhan bukan? Perhatikan ayat 24, Tuhan Yesus-lah Tuan kita, Dialah yang memberikan upah bagi kita. Berikan yang terbaik bagi Dia, termasuk dalam pekerjaan kita!

3. Bekerja dengan takut akan TUHAN (ayat 24-25).
Seorang pekerja Kristus sudah seharusnya menunjukkan kehidupan yang takut akan Dia dalam bekerja. Takut akan Tuhan adalah kehidupan yang berintegritas, bukan dinilai pada diri sendiri seperti yang dimaksudkan para penceramah leadership dan enterpreunership tentang integritas, tetapi lebih lagi diniali berdasarkan ‘bagaimana di hadapan TUHAN’! Itu berarti bekerja dalam kebenaran, dalam kekudusan dan kejujuran. Tuhan’kan yang menilai, memberi upah dan menghukum setiap kesalahan dan kejahatan karena Dia-lah Tuan kita. Apakah kita pekerja Kristus? Bekerjalah dengan takut akan TUHAN!

4. Bersaksilah di lingkungan pekerjaan!
Ingat bahwa Paulus menegaskan kita adalah pekerja Kristus. Sadar atau tidak, kita sedang menggunakan ‘lencana’ ini: Pekerja Kristus! Orang akan tahu kita pengikutNya dan memperhatikan sikap kita termasuk pekerjaan kita. Itu sebabnya bersaksi atau tidak kita tetap menjadi ‘surat terbuka’ bukan? Tugas kita, para pekerja Kristus bukan hanya bekerja untuk kantor dan perusahaan kita atau untuk keluarga kita, tetapi juga untuk kerajaan Sorga. Tunjukkan lewat pekerjaan kita bahwa Yesus-lah Tuhan dan Juruselamat. Bukan hanya itu, mari kita bersaksi, memberitakan InjilNya! Dalam Perjanjian Lama ada pekerja yang menjadi teladan bagi kita, yaitu budak perempuan Naaman (2 Raja-raja 5:1-4). Memang pembantu rumah tangga pekerjaan yang sederhana, namun perempuan itu berani bersaksi bahwa ada nabi di Israel yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan orang sakit. Jadilah pekerja Kristus, bersaksilah!

BERKAT BAGI PEKERJA KRISTUS YANG MENYENANGKAN HATINYA

Apakah saudara pekerja Kristus yang memiliki sikap hidup seperti diatas, sikap yang menyenangkan hati TUHAN? Jika ya, sudah pasti Saudara memiliki berkat-berkat ini: Pertama, sudah sepantasnya majikan di dunia menjadi saluran berkat TUHAN bagi para pekerja Kristus yang taat, bekerja dengan ‘memberi yang terbaik’, takut akan Tuhan (berintegritas) dan bersaksi! Jangan terkejut jika Saudara, apabila disayangi seperti Yusuf oleh Potifar, kepala penjara dan Firaun! Kedua, Saudara menjadi kesaksian bagi lingkungan kerja bahkan dunia. Ketaatan, pekerjaan yang baik, takut akan Tuhan dan keberanian bersaksi akan memuliakan Tuhan Yesus di dunia kerja. Ketiga, jika kita menempatkan diri sebagai pekerja Kristus, maka sudah pasti TUHAN akan memberikan bagian kita sebagai upahnya (ayat 24). Pasti!

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Senin, 08 November 2010

Miskin, Siapa Takut ?

AMSAL 22:2

Judul
nya menakutkan ya? Jangan kuatir dahulu. Sebelum kita merenungkan tentang kemiskinan yang tidak perlu ditakuti, Saya harus menegaskan dua hal yang penting. Pertama, Saya tidak mengajarkan agar kita menjadi miskin. Bahkan Saya berdoa agar setiap jemaat diberkati dengan berkelimpahan! Dan yang terpenting, sebenarnya setiap orang didalam Tuhan Yesus pasti terpelihara oleh kemurahan Tuhan! Kedua, orang Kristen TIDAK harus miskin untuk menjadi rohani!
APA YANG DIMAKSUD DENGAN MISKIN? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hal 79. Kata “miskin” diartikan: tidak berharta; serba kekurangan/penghasilan rendah. Miskin juga berarti tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya (makan, pakai, tempat tinggal dan pendidikan) secara mandiri. Bagaimana menyikapi kemiskinan, tergantung pada bagaimana kita cara pandang kita terhadap kemiskinan dan tentu saja, kita harus belejar dan tunduk pada Alkitab, yang adalah firman Allah! Beberapa Cara Pandang Yang Salah Terhadap “Kemiskinan” Di bawah ini adalah cara pandang yang salah, yang tidak cocok dengan Alkitab, tentang kemiskinan. A. “Miskin Itu Dosa” Pandangan ini menyatakan bahwa miskin adalah dosa! Setiap orang miskin adalah orang yang berbuat dosa. Tuhan Mahakaya, jadi tidak mungkin membuat manusia menjadi miskin. Jadi, orang Kristen harus kaya, kalau miskin itu artinya ada dosa. Tanggapan Alklitab: Pandangan di atas adalah yang SALAH! Miskin memang bisa saja akibat dari dosa/ Miskin adalah kondisi sedangkan dosa adalah pelanggaran terhadap perintah TUHAN. Dosa memang dapat menyebabkan kemiskinan, tapi tidak semua kemiskinan adalah akibat dosa. Jangan lupa bahwa banyak tokoh Alkitab pernah dan mengalami kemiskinan, namun tidak sedang berbuat dosa! Misalnya Ayub, yang takut akan Tuhan justru jatuh miskin. Juga Tuhan Yesus, yang hidup sederhana dan jelas-jelas dari keluarga miskin. Waktu masih kecil persembahannya burung terkukur, suatu persembahan yang ‘khas’ orang miskin saat itu (kalau orang kaya, pasti kambing, domba bahkan lembu/sapi). Dan masih banyak lagi petunjuk Alkitab bahwa Tuhan Yesus menjadim manusia, hamba (baca: budak) yang menderita bagi manusia. B. “Miskin Itu Kurang Iman” Pandangan ini menegaskan bahwa setiap orang miskin adalah orang-orang yang kurang iman, bahkan tidak beriman. Tuhan itu Mahakaya, kita adalah anak Raja, tidak mungkin miskin! Jika miskin, berarti kita kurang beriman. Ini juga pandangan yang SALAH! Tanggapan Alkitab: Pandang ini jelas salah. Memang kurang iman dapat menyebabkan kemiskinan, tetapi tidak semua kemiskinan akibat kekuarangan iman. Sekali lagi ingat Ayub, Paulus dan Yesus yang sekalipun miskin, mereka tidak kekurangan iman bukan? Justru dii tengah kemiskinan, mereka menunjukkan iman dan kebergantungan pada Allah secara luar biasa! Dan lagi, iman menjadi ‘kerdil’ jika hanya ditujukan untuk mencari kekayaan (jadi kaya). Ini sangat menyedihkan hati Tuhan Yesus. KEBENARAN ALKITAB TENTANG KEMISKINAN Sesudah kita lihat pandangan yang salah, sekarang kita lihat pandangan yang benar, pandangan Alkitab tentang kemiskinan: I. Kaya atau miskin ada di dalam tangan TUHAN yang berdaulat (Amsal 22:2) Hidup, jodoh dan berkat (rejeki) ada di tangan TUHAN. Inilah yang dikatakan Alkitab. Miskin dan kaya, Tuhan yang menjadikan! Kebenaran ini justru mengharuskan kita untuk selalu mengandalkan Tuhan. Tanpa Tuhan, sia-sia usaha kita. Di sisi lain, kebenaran ini juga mendorong kita untuk berusaha (kerja) dengan sungguh-sungguh, termasuk membuang penyebab kemiskinan (misalnya dosa judi, mabuk dan sebagainya). II. Miskin Itu Menjadi Sarana Tuhan Untuk Membentuk Kita Menjadi Serupa Dengan Tuhan (Roma 8:28-29). Jelas bahwa Alkitab telah memeberikan arah bagi tuuan hidup kita, yaitu menjadi serupa dengan Kristus dan dengan demikian memuliakan Tuhan! Dan TUHAN turut bekerja dalam segala hal, termasuk kondisi kaya atau miskin untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, yaitu menjadi serupa dengan DIA! (ayat 28). Misal: Ayub, yang jadi miskin untuk menumbuhkan karakternya seperti Kruistus. (band. Elia dan Paulus). III. Miskin Adalah Kondisi Sementara Di Dunia Ini Terakhir, Alkitab menegaskan bahwa miskin adalah kondisi sementara di dunia. Bukankah tidak selama-lamanya kita di dunia ini? Seperti kekayaan tidak kita bawa ke sorga, demikian dengan kemiskinan tidak akan pernah ikut kita ke sorga! Justru sebagai anaka-anak Tuhan Yesus, kita punya kepastian bahwa suatu kali kita semua akan menikmati kemuliaan selama-lamanya. Itulah sebabnya Paulus tidak pernah tawar hati, undur sekalipun menderita, fisiknya merosot dan mengalami kelaparan dan kemiskinan di dunia sebab Paulus memandang kemuliaan yang kekal! (2 Korintus 4:16-5:1). Akhirnya, mari kita menjadi orang Kristen yang teguh dan pantang menyerah. Bergantunglah pada Tuhan dan tetap berusaha dengan sungguh-sungguh. Bukankah, Allah di dalam Tuhan Yesus adalah Pemelihara kehidupan kita? Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 31 Oktober 2010

KERAJAAN YANG TIDAK TERGONCANGKAN

IBRANI 13:25-29

Bencana-bencana yang terjadi di bangsa kita seringkali membuat kita terkejut dan bertanya-tanya: “Mengapa hal itu harus terjadi?” “Bagaimana nasib mereka yang mengalaminya?””Bagaimana seandainya itu terjadi pada kita?” belum ditambah lagi dengan “goncangan” ekonomi. Ya, dunia tempat kita berada mengalami banyak goncangan. Tetapi sadarkah kita sebagai orang-orang percaya, kita memiliki Kerajaan yang tidak tergoncangkan. Tidak seperti kerajaan-kerajaan dunia ini? Penulis surat Ibrani memberitahu kita hal ini (Ibrani 12:28).
MENERIMA KERAJAAN YANG TIDAK TERGONCANGKAN
Sekalipun kita berada di tempat yang dapat digoncangkan, namun kita memiliki Kerajaan yang tidak tergoncangkan. Bagaimana kita menerimanya?

I. Tunduk Kepada Kekuasaan Raja Kerajaan Yang Tidak Tergoncangkan
Dalam kerajaan yang tidak tergoncangkan, ada Raja, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang harus kita taati dan hormati dalam setiap segi hidup kita. Kapan hal itu kita lakukan? Ketika kita tunduk dan taat kepada firman Tuhan yang adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Maz 119:105), berarti kita sedang mentaati dan menghormati Raja Kerajaan yang tidak tergoncangkan.

II. Memandang Pada Kekekalan Kerajaan Yang Tidak Tergoncangkan
Kerajaan yang tidak tergoncangkan menunjuk pada sesuatu yang bersifat kekal dan bukan sementara. Sebab itu kita harus mengarahkan pandangan pada kekekalan dan hidup dalam kekudusan dan kebenaran. Karena hidup kita bukan hanya di dunia yang dapat tergoncangkan ini, maka kita harus hidup kudus sampai kita masuk dalam kerajaan yang tidak tergoncangkan. Allah-lah yang memindahkan kita ke dalam Kerajaan AnakNya (Kol 1:13) dan Ia juga yang sanggup manjaga kita sampai masuk dalam kekekalanNya (Yud 1:24). Ketika kita mengalami “guncangan”, KerajaanNya yang tidak terguncangkan hadir dalam hidup kita, melalui kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rom 14:17)

III. Memiliki Sikap Yang Benar Sebagai Penerima Kerajaan Yang Tidak Tergoncangkan
Sebagai penerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, kita dituntut memiliki sikap hidup :
A. Mengucap Syukur
Melalui surat kepada Jemaat Tesalonika, Rasul Paulus mengajar kita untuk mengucap syukur senantiasa dalam segala hal (I Tes 5:18). Apakah kita dapat bersyukur senantiasa, terlebih pada saat situasi yang sulit sekalipun? Bersyukurlah senantiasa, karena kita adalah penerima kerajaan yang tidak tergoncangkan.

B. Hidup Menurut Tata Cara Kerajaan Yang Tidak Tergoncangkan
Kita dituntut memiliki sikap hidup yang sesuai dengan peraturan kerajaan yang tidak tergoncangkan, sehingga kita dilayakkan untuk tinggal di dalamnya. Tata Cara tersebut dapat kita ketahui dari firman Tuhan yang kita baca dan renungkan setiap hari.
C. Beribadah Kepada Tuhan Dengan Takut Dan Hormat
Seharusnya kita beribadah kepada Tuhan dengan takut dan hormat, karena Tuhan Yesus adalah Raja kerajaan yang tidak tergoncangkan. Mempersembahkan yang terbaik, yaitu hidup kita sebagai persembahan yang kudus, hidup dan berkenan kepadaNya (Roma 12:1-2). Berapa sering, kita beribadah dengan tidak takut dan hormat kepada Tuhan. Kita tidak sungguh-sungguh dalam memuji, menyembah dan mendengar firman Tuhan. Mari kita bertobat, dan mari beribadah kepada Dia dengan takut dan hormat. Ingatlah, kita adalah penerima kerajaan yang tidak tergoncangkan.

Akhirnya, sebagai penerima Kerajaan yang tak tergoncangkan, marilah kita tunduk kepada Raja, memandang kepada kekekalan, dan memiliki sikap hidup yang bersyukur, hidup menurut tata cara Kerajaan, dan beribadah kepada Tuhan dengan takut dan hormat. Amin!

Pdt. Adrian L. Manikome (Bitung)

Minggu, 24 Oktober 2010

SUKSES DALAM BEKERJA

Kejadian 39:1-23

Ingin berhasil dalam pekerjaan? Alkitab memberikan prinsip-prinsip untuk bekerja dengan efektif dan mencapai keberhasilan. Kejadian 39:1-23 memberikan kita prinsip-prinsip yang patut diteladani untuk menjadi pekerja yang berhasil. Yusuf adalah seorang pekerja yang sukses. Tetapi perlu digarisbawahi apa yang saya sebut kesuksesan menurut Alkitab. Pertama, sukses adalah pekerjaan yang berhasil (yang survive dan menghasilkan keuntungan). Ini sudah pasti. Kedua, sukses harusnya berarti ‘memberkati’ orang lain. Misalnya pemimpin dalam pekerjaan, sesama pekerja (karyawan atau sesama pebisnis) dan semua orang. Ketiga, yang paling utama, sukses disini harus berarti pekerjaan kita menyenangkan hati TUHAN kita, Yesus Kristus. Jadi, bukan hanya mencari keuntungan pribadi semata-mata. Ingat tujuan tertinggi setiap anak Tuhan apapun pekerjaan dan usahanya adalah menjadi serupa dengan Kristus sehingga hidup, keluarga dan pekerjaan kita memuliakan Tuhan Yesus saja!

RAHASIA BERHASIL DALAM PEKERJAAN
Mari kita renungkan prinsip bekerja di bawah ini dan kita lakukan dalam setiap pekerjaan kita sehingga pekerjaan kita dibuat TUHAN berhasil!

1. Penyertaan TUHAN! (ayat 2-3).
Rahasia yang paling penting dan utama dari keberhasilan seseorang dalam usaha (bekerja) adalah PENYERTAAN TUHAN, tidak ada yang lain! Perhatikan betapa penulis kisah Yusuf ini begitu menekankan bahwa penyertaan TUHAN-lah yang menjadikan kita berhasil, sehingga ia perlu menuliskan hingga 4 kali berturut-turut (lihat ayat 2, 3, 21 dan 23). Ya, hanya karena TUHAN menyertai kita,. kita dibuatNya berhasil Tanpa TUHAN kita bukan apa-apa, kita tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi oleh TUHAN kita dimampukan untuk mengerjakan sesuatu ! Jadi, betapa salahnya jika kita beranggapan bahwa yang menjamin keberhasilan kita adalah kemampuan kita mengelola, pendidikan bisnis, seminar-seminar, pengalaman kerja, koneksi, modal, kemampuan marketing dan sebagainya! Semua mungkin diperlukan, tetapi tanpa TUHAN, semua itu bukan apa-apa! Lalu apakah kita yakin kalau TUHAN beserta kita? Amin? Atau ada yang tidak dapat meyakini penyertaan Tuhan dalam hidupnya? Memang untuk menemukan peneguhan akan penyertaan Tuhan Yesus dalam hidup kita ada 2 hal yang penting. Pertama, Relasi yang intim dengan Tuhan Yesus. Iman Kristen adalah relasi bukan sekedar ucapan bibir bahwa percaya Tuhan Yesus! Apakah Saudara memiliki relasi yang intim dengan Tuhan? Ibadah tidak, doa pribadi dan baca Alkitab tidak juga, apalagi persekutuan dengan sesama orang percaya tidak pernah. Tidak mengherankan jika Saudara menjadi bimbang, bahkan mengira Tuhan ‘jauh’. Kedua, peneguhan akan penyertaan Tuhan Yesus didapat dalam kehidupan yang takut akan Tuhan, hidup benar! Bukankah yang memisahkan kita dengan Allah adalah dosa dan kejahatan kita? (Yesaya 59:1-2). Jika kita hidup dalam dosa apakah itu menunjukkan Tuhan menyertai kita? Justru menunjukkan sikap praktis kita bahwa Tuhan ‘tidak ada’, buktinya demikian mudah kita, tanpa takut pada Dia, melakukan dosa dan kejahatan. Mari hidup dalam kebenaran FirmanNya dan renungkan betapa penyertaanNya begitu nyata dalam hidup dan usaha kita.

2. Berintegras (ayat 6-20).
Berintegras artinya, memiliki mutu, sifat dan keadaan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran (KBBI). Secara sederhana berintegritas berarti hidup takut akan Tuhan, kehidupan yang selalu sadar bahwa hidup ini, termasuk pekerjaan, diawasi oleh Tuhan Yesus di mana dan kapan saja. Yusuf seorang yang berintegras. Integritas seseorang akan nyata saat ujian dan godaan datang! Dan Yusuf sudah membuktikan bahwa dia berintegritas. Awas godaan datang dengan memberi kita kesempatan untuk jatuh dalam dosa dan kejahatan yang merusakkan integritas kita sebagai pekerja Kristen! Selanjutnya godaan selalu datang dengan tawaran yang menggiurkan namun berakhir celaka! Misalnya cepat kaya, kesempatan untuk sukses dengan menghancurkan orang lain, mencari untung dengan merugikan orang lain dan dosa lainnya! Ingin sukses, jadilah pekerja yang berintegritas.

3. Berdedikasi (ayat 3, 6).
Yusuf seorang pekerja yang berdedikasi, mengabdikan dirinya. Ini menyangkut kerajianan dan kesungguhan dalam bekerja. Lihat saja, Yusuf bekerja sampai Potifar, bosnya, “tidak usah mengerjakan apa-apa lagi”. Tuhan memberkati orang yang rajin bekerja dan bersungguh-sungguh dalam bekerja.

4. Mengembang diri.
Yusuf seorang pekerja yang mengembangkan dirinya terus menerus. Yusuf bukanlah seorang muda yang merantau untuk mencari pekerjaan dan pengalaman! Sebelumnya dia adalah “anak papa” yang tinggal di kemah, namun Yusuf berhasil menjadi pelayan di rumah Potifar dan dipercaya menjadi kepala rumah di sana. Kalau bukan karena mau dan berusaha mengambangkan diri, apa yang dilakukan Yusuf? Lihat bagaimana dia mengem-bangkan kompetensinya saat dipenjara dan kemudian Tuhan buat berhasil dan ‘layak’ menjadi pejabat negara Mesir! Saudara harus mengem-bangkan diri.

5. Tidak mudah menyerah (ayat 20-23).
Kehidupan Yusuf tidak langsung sukses, bahkan penuh tantangan, namun dia tidak pernah menyerah! Tantangan bukan penghalang keberhasilan, tetapi justru mengokohkan keberhasilan di masa yang akan datang. Jangan mudah menyerah, pandanglah betapa besar TUHAN kita Yesus Kristus dan bergantunglah padaNya! Tuhan Yesus Memberkati

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 17 Oktober 2010

MENJADI KAYA, MAU?

(STUDI MENGENAI KEKAYAAN MENURUT KITAB AMSAL)

Menjadi kaya merupakan keinginan semua orang. Tidak ada orang yang tidak mau kaya. Bahkan segala usaha dilakukan supaya menjadi kaya. Namun untuk menjadi kaya ada hal-hal penting yang harus diperhatikan. Dan Kitab Amsal memberikan kepada kita rahasia bagaimana menjadi kaya yang sesuai dengan firman Tuhan.

Hal Pertama Yang Harus Kita Ketahui:
Inilah hal pertama yang harus bagi Saudara yang mau kaya, ketahui Keinginan untuk cepat menjadi kaya adalah perkara yang dilarang Tuhan (Ams 28:20; 23:4-5). Tuhan melarang apabila:
a. Ada nafsu / desire untuk menjadi kaya (band. Terjemahan KJV dan NIV).
b. Bahaya menghalalkan segala cara.
Rasul Paulus juga mengingatkan kita agar jangan “ingin kaya” dan mengejar uang (I Tim 6:6-10), karena berakibat:
- Terjatuh dalam pencobaan, jerat nafsu yang hampa dan mencelakakan dan membinasakan.
- Menyimpang dari iman
- Menyiksa diri dalam berbagai-bagai duka.

RAHASIA MENJADI KAYA MENURUT KITAB AMSAL
I. Menyadari Bahwa Tuhan Adalah Sumber Berkat (Ams 10:22; 22:2)
Tuhanlah yang menjadikan kita kaya. Dia berdaulat menjadikan kaya dan miskin. Dan hal ini menunjukkan dua hal, yang pertama, menolak segala usaha (bekerja) dengan mengandalkan kekuatan sendiri tanpa Allah! Kalau kita menyadari bahwa Tuhan-lah sumber berkat, maka kita seharusnya bekerja segiatnya dengan mengandalkan Tuhan. Kedua, ini menolak paham fatalisme dimana kalau seseorang miskin, ini karena nasibnya memang jadi orang miskin. Benar Tuhan-lah yang berdaulat, tetapi siapa yang tahu nasib (keputusan akhir)? Tidak ada kan? Sebab itu Tuhan juga mengajarkan kita untuk bekerja segiatnya dan bergantung kepada Tuhan.

II. Rajinlah Bekerja (Ams 10:4)
Tuhan memberkati orang-orang yang rajin bekerja. Kemalasan hanya menghasilkan kemiskinan. Tuhan memberi contoh binatang semut yang rajin dalam bekerja yaitu mengumpulkan makanan (6:6-11). Rajin bekerja tidak sama dengan gila kerja. Orang yang gila kerja tidak memperdulikan waktu-waktu dalam hidupnya (waktu untuk beribadah, keluarga, istirahat, dst), yang penting bekerja. Jelas bukan ini yang dimaksud dengan ‘rajin bekerja’! Masih ingat slogan “ora et labora” yang artinya berdoa dan bekerja? Jelas bahwa sekalipun kerajianan penting, namun berdoa dan ibadah kepada Tuhan harus menjadi prioritas utama kita (bandingkan dengan bagian I).

III. Jangan Pelit (Ams11:24-27)
Sumbat kelimpahan dari Tuhan adalah kekikiran! (Ams 28:22). Seringkali kita tidak diberkati Tuhan karena kita kikir atau pelit. Amsal berkata bahwa ada yang menyebar harta justru kelimpahan, tetapi yang pelit akan menjadi kekurangan dalam hidupnya. Jangan pelit! Pertama, jangan pelit kepada Tuhan. Kembalikan persepuluhan, yang adalah milik Tuhan. Bukankah Allah berjanji untuk membuka tingkap-tingkap langit dan memberkati kita? (Maleakhi 3:10). Mari belajar memberikan persembahan syukur persembahan bagi pekerjaan Tuhan, pembangunan dan bagi para hamba Tuhan. Siapa banyak menabur akan menuai bukan? (Ams 3:9-11). Memberi persembahan juga tidak perlu m
enunggu kita diberkati limpah, namun melalui berkat yang ada, kita belajar memberi persembahan kepada Tuhan dan Tuhan Yesus pasti memberkati kita. Kedua, tidak pelit pada sesama. Mari kita belajar memberi sesama, saudara seiman yang kekurangan, sesama yang membutuhkan pertolongan, yang sakit dan membutuhkan bantuan. Dan lihatlah bagaimana Tuhan memberkati kita dengan limpah!

IV. Belajar Mengatur Keuangan (Ams 13:11)
Kebocoran dalam hal keuangan kita seringkali karena TIDAK DAPAT MENGATUR keuangan kita dengan baik dan benar. Penulis Amsal dengan jelas mengajar untuk mengatur keuangan dengan baik dan benar. Dahulukan milik Allah, yaitu persepuluhan, baru kemudian kebutuhan pokok kita dan baru hal-hal yant tidak pokok dan akhirnya harus menabung! Ini susunan prioritasnya. Jadi, berhemat adalah perlu. Tetapi perlu diingat bahwa hemat tidak sama dengan kikir/pelit. Jangan kita konsumtif (suuka belanja bahkan yang tidak perlu atau yang tidak kita butuhkan). Juga jangan berfoya-foya (Ams 21:17). Terakhir, menabunglah karena menabung adalah bagian dari mengatur keuangan yang baik. Kita harus belajar menabung dengan demikian menempatkan diri sebagai orang yang bijak (13:1).

V. Hiduplah Takut Akan Tuhan (Ams 22:4; 28:20)
Kekayaan merupakan janji (berkat) Tuhan bagi orang yang takut akan Dia. Sikap takut akan Tuhan harus nyata waktu kita bekerja! Misalnya bekerja dengan jujur, tidak korupsi uang perusahaan, bekerja dengan giat sekalipun majikan tidak ada di tempat dan sikap-sikap benar yang lain yang merupakan wujud rasa takut kita kepada Tuihan Yesus (Lihat ayat-ayat praktis yang menegaskan sikap takut aan Tuhan dalam bekerja ini: Ams 10:2; 21:6; 13:22; 22:16). Takut akan Tuhan juga harus nyata dalam mengelola keuangan. Jangan tidak jujur terhadap Tuhan. Ingin diberkati denngan limpah? Takutlah akan Tuhan kita, Yesus Kristus.

Akhirnya, lakukanlah prinsip Alkitab dan lihatlah bagaimana Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Pemberkat memberkati kita dengan limpah dalam segala kemurahanNya.

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 19 September 2010

“Jangan Takut, Percaya Saja !”


Markus 5:21-43

“Jangan takut, percaya saja!” Demikian perkataan Tuhan Yesus kepada Yairus, kepala rumah ibadah. Megapa? Karena ada alasan untuk Yairus takut dan tidak percaya, melihat situasi kondisi yang dialami. Seperti kita ketahui dalam kisah ini, anak Yairus menderita sakit dan hampir mati. Lalu dia datang kepada Yesus dan memohon Yesus datang ke rumahnya untuk menyembuhkan anaknya. Tetapi ditengah perjalanan, perjalanan Yesus dan Yairus “terhalang” oleh peristiwa penyembuhan perempuan yang sakit pendarahan, yang tentunya cukup menyita waktu. Ditambah dengan kabar dari keluarga Yairus yang menyatakan bahwa anak Yairus sudah mati, dan tak perlu membawa Yesus datang ke rumahnya. Tetapi di ayat 35, Yesus berkata: “Jangan takut, percaya saja!”

I. JANGAN TAKUT, ...!
Telah kita bahas pada bagian awal, bahwa Yairus mempunyai alasan untuk takut menghadapi permasalahannya.

A. Kehidupan dan permasalahannya seringkali membuat kita takut.
Ya, banyak kali kita takut menghadapi masalah, pekerjaan, tantangan-tantangan hidup, masa depan, dan lain sebagainya. Ketika bangsa Israel hendak memasuki tanah Kanaan, maka diutuslah 12 pengintai. Namun kabar yang dibawa oleh 10 pengintai (selain Yosua dan Kaleb) membuat bangsa Israel menjadi takut, dan merasa seperti belalang dibandingkan dengan penduduk Kanaan yang seperti raksasa (Bilangan 13:27-33). Apakah kita juga takut menghadapi kehidupan ini? Yairus pun takut, itu manusiawi, tetapi Yesus berkata kepada Yairus dan kepada kita: “Jangan takut, ...!

B. Tuhan Yesus berkata: “Jangan Takut, ...!
Tuhan Yesus memberikan jaminan bagi rasa takut kita. Karena Dia adalah Allah yang berkuasa untuk mengusir segala ketakutan kita. Marilah kita mempercayai kuasaNya. Kepada murid-murid yang ketakutan dengan ombak dan gelombang, Yesus berkata; “Ini Aku, jangan takut! Maka segala ketakutan pun lenyaplah (Yohanes 6:20). Perkataan Tuhan Yesus merupakan “obat” bagi rasa takut. Tuhan Yesus sanggup “menyembuhkan” rasa takut kita. Sebab itu jangan takut!
II. “ ... PERCAYA SAJA!”
Dalam kamus bahasa Indonesia, maka kata “percaya” juga diartikan: tidak meragukan kemampuan.
A. Kondisi kehidupan yang tanpa pengharapan
membuat kita kehilangan kepercayaan.
Kabar dari keluarga Yairus, merupakan kabar tanpa pengharapan yang bisa menghilangkan kepercayaan Yairus kepada Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan berkata: “Percaya saja!” Seolah-olah Tuhan berkata kepada Yairus; “Percayakan semua kepada kemampuanKu!” Percaya Tuhan Yesus berarti tidak meragukan kemampuanNya untuk menolong kita. Mungkin hari ini kita sepertinya hidup tanpa pengharapan, tetapi percayalah ! Jangan ragukan kemampuanNya. Dia sanggup untuk menolong kita.

B. Tidak Pernah Sia-sia Percaya Kepada Yesus.
Tidak akan pernah sia-sia kita percaya kepada Tuhan sekalipun situasi kondisi “terlihat” semakin sulit. Dalam kondisi yang sulit (ada kabar bahwa anaknya mati), Yairus mempercayai Tuhan. Hal ini terbukti bahwa dia tetap membawa Yesus ke rumahnya. Ketika situasi kehidupan kita semakin sulit, apakah kita tetap percaya kepada Tuhan? Atau kita tidak percaya lagi kepada Tuhan dan meragukan kemampuan Tuhan untuk menolong kita? Doa Nabi Habakuk menyatakan rasa percaya yang sungguh-sungguh kepada Tuhan, sekalipun kondisi sulit dan tidak ada harapan (Hab. 3:17-19).

C. Tuhan Yesus berkata: “... Percaya Saja!”
Artinya percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan dan tidak bimbang. “Cukup” percaya saja. Yairus perlu percaya saja, tidak perlu yang lain. Di sini bukan berarti kita tidak perlu berusaha. Yairus sudah berusaha (melakukan bagiannya) yaitu: datang kepada Yesus, sujud dan memohon pertolongan Tuhan Yesus (ayat 22). Dan saat itu Yairus hanya perlu percaya saja dan melihat Tuhan bertindak bagianNya (menghidupkan anaknya). Apabila kita telah melakukan bagian kita, maka Tuhan akan melakukan bagianNya, yaitu menyatakan mujizatNya.Kita cukup percaya saja kepadaNya.

Dalam menjalani kehidupan ini, marilah kita selalu mengingat perkataan Tuhan:”Jangan takut, percaya saja!” Sebab hanya Dia yang sanggup mengusir ketakutan kita dan akan bertindak untuk menyatakan mujizat bagi kita yang percaya.
Tuhan Yesus memberkati.

Pdm. Dwi Cahyono, S.Th

Minggu, 29 Agustus 2010

SEKS & KELUARGA

Masalah seks memang jarang disampaikan dalam khotbah, karena seringkali dianggap tabu dan sebagainya. Namun Alkitab dengan jelas mengatur bagaimana peranan seks dalam keluarga Kristen. Dalam hal ini rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus menyampaikan bagaimana seharusnya seks yang benar dalam hubungan suami isteri dan pengaruhnya dalam keluarga.

DOSA SEKS

Dosa seks merupakan salah satu dosa yang merusak dan menghancurkan pernikahan dan keluarga Kristen. Dosa seks yang terus berkembang dan menghancurkan orang-orang yang melakukan, bahkan membuat banyak keluarga hancur karena dosa ini. Sebut saja, diantaranya:
a. Pornografi dan pornoaksi yang sangat merusak.
Pornografi seringkali “disusupkan” dalam berbagai tayangan TV, komik anak-anak, majalah-majalah dan banyak lagi.
b. Perselingkuhan dan ketidaksetiaan yang dianggap biasa. Perselingkuhan menjadi tren dan dianggap sesuatu yang biasa atau wajar. Tidak sedikit lagu-lagu dunia yang mendukung terjadinya perselingkuhan. Lalu bagaimana keluarga kristen menyikapi tantangan yang besar ini?

I. Apa Kata Alkitab?

A. Seks adalah anugerah Tuhan bagi pasangan suami isteri dalam Tuhan (Kejadian 1:28, band. 2:25)

Tuhan-lah yang menciptakan seks. Seks bukanlah akibat dosa. Tetapi sebelum manusia jatuh dalam dosa, Allah telah mengaruniakan seks kepada manusia. Allah yang memerintahkan manusia beranak cucu dan bertambah banyak (Kej 1:28). Tuhan juga yang memberikan seks sebagai jalan keluar dari percabulan (ayat 1-2)

B. Dalam Tuhan Seks Itu Kudus
Bagi Tuhan seks itu kudus dan merupakan kehendak Tuhan supaya anak-anakNya hidup kudus (6:13 band I Tes 4:3). Tuhan membenci dan menghukum dosa percabulan. Tuhan memerintahkan kita menikah dan menjauhi percabulan.

II. Kita Harus Berperan Aktif Dalam Kehidupan
Kudus

Peran aktif orang tua. anak dan pasangan suami isteri sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan dosa seks
A. Bagi Orang Tua
Dalam menghadapi tantangan dosa seks, maka seharusnya orang tua:
1. Memberikan teladan hidup kudus bagi anak-anaknya.

Kalau orang tuanya saja tidak hidup dalam kekudusan, bagaimana anak-anaknya mau hidup kudus? Dalam hal ini teladan orang tua sangat diperlukan. Apakah sebagai orang tua, kita sudah memberikan teladan hidup kudus kepada anak-anak kita?
2. Mengajarkan kehendak Tuhan mengenai seks dan hidup kudus.

3. Mendidik anak-anak dalam disiplin yang penuh kasih dan jangan lupa mendoakan mereka.

B. Bagi Anak-anak

Demikian pula anak-anak harus berperan aktif dalam hidup kudus dengan:
1. Taat kepada orang tua dalam Tuhan.
2. Menjauhi percabulan dan seks pranikah, karena itu dosa.
Yusuf, merupakan salah satu tokoh di Alkitab yang dapat menjadi contoh bagaimana menjauhi dosa seks. Ketika isteri Potifar berusaha membujuk Yusuf untuk tidur dengannya, maka Yusuf mengambil tindakan lari dan menjauhi isteri Potifar (Kej. 39). Dosa seks sangat mematikan, sebab itu jauhi. Selalu waspada ketika kita bergaul dan berpacaran.
3. Berdoa bagi orang tua supaya orang tua tetap utuh, bahagia dan diberkati.

Sangat penting bagi anak untuk mendoakan orang tua, bukan hanya menuntut teladan.


C. Bagi Pasangan Suami Isteri

1. Suami dan isteri wajib memenuhi kewajibannya
(ayat 3), yaitu kewajiban seksual.
Apabila seorang suami atau isteri tidak melakukan kewajibannya, hal ini akan memicu terjadinya percabulan dan perselingkuhan. Seharusnya setiap pasangan suami isteri menyadari hal ini.

2. Suami isteri berhak atas tubuh pasangannya
.

Suami isteri adalah satu tubuh/daging, sehingga masing-masing berhak atas tubuh pasangannya. (ay. 4).

3. Jangan saling menjauhi kecuali karena persetujuan (sementara) dan karena mau berdoa
(ay. 5). Alkitab memberikan kelonggaran untuk suami isteri saling berjauhan untuk sementara waktu. Dan “waktu” ini dipergunakan untuk berdoa. Setelah itu harus segera kembali supaya iblis tidak menggunakan kesempatan tersebut untuk menggoda dan merusak rumah tangga kita.
Akhirnya, marilah kita sebagai keluarga Kristen memiliki sikap yang benar terhadap seks dalam keluarga; Apa kata Alkitab dan perlunya peran aktif setiap anggota keluarga.
Tuhan Yesus memberkati setiap keluarga kita.


dikhotbahkan oleh: Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th
.

Alasan Tidak Membayar Perpuluhan

Tiga orang yang berbeda profesi sedang berdiskusi soal perpuluhan. Mereka masing-masing mengemukakan alasan mengapa mereka belum membayar perpuluhan.

Akuntan: Saya belum membayar perpuluhan karena belum menerima surat tagihan dari Tuhan.

Pengacara: Kalau saya belum membayar perpuluhan karena belum ada undang-undang yang mengaturnya.

Bankir: Saya sih sudah lama mau membayar perpuluhan, tapi sampai sekarang saya belum tahu nomor rekening Tuhan.

cabe deeeh....

ALBUM KENANGAN