Selamat datang di www.wartamaranatha.blogspot.com - Memberitakan Injil dan Mendewasakan Kerohanian
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2011

BAHAYA DARI KEPUTUS ASAAN

1 RAJA-RAJA 19:9-18

Siapa yang tidak pernah putus asa? Bahkan Alkitab menceritakan pada kita bahwa nabi Elia, yang dipakai Tuhan secara luar biasa, dapat menjadi putus asa! Ya, Elia putus asa dan meminta mati setelah lari dari ancaman un Izebel, permaisuri raja Ahab (19:1-4). Elia ketakutan karena diancam akan dibunuh, melarikan diri kepdang guru dan minta mati kepada Tuhan. Pernah meminta mati saat pergumulan berat Saudara alami? Tentu saja ini bukan sikap yang benar, tetapi tetapi toh kita pernah atau bahakan diantara kita ada yang sedang mengalaminya. Tetapi kisah ini mengingatkan kita untuk TIDAK tetap dalam keputusasaan, mengapa? Pertama, karena Tuhan kita Yesus Kristus tidak akan pernah meninggalkan anak-anakNya! (lebih jelas dalam penjelasan khotbah Saya). Jangan putus asa sebab Tuhan Yesus tetap ada bagi Saudara! Kedua,karena ada bahaya yang menanti kita di balik setiap keputusaan. Keputusaasaan berbahaya bagi kita. Mari kita renungkan apa yang dialami Elia ketika ia ada dalam pergumulan berat hingga mengalami putus asa. Dan kita akan memperhatikan apa yang dikatakan Elia dalam ayat 10 dan 14.

1. Keputusasaan Menyebabkan Kita Salah Menil
ai Allah.
Ketika Tuhan Allah bertanya pada Elia “Apak
ah kerjamu di sini?”, maka Elia menjawab “Bekerja segiat-giatnya bagi Allah!” (lihat ayat 10). Benarkah? Tidak, dia sedang melarikan diri! Elia tidak mengakui kelemahannya, justru balik menyerang Tuhan. Elia berkata bahwa dirinya bekerja sendirian, sedangkan Tuhan tidak berbuat apa-apa! Elia menunjukkan bahwa hanya dia yang bekerja sendiri, lihat saja semua orang Israel murtad, mezbah-mezbahnya diruntuhkan, semua nabi dibunuh dan dirinyapun diancam! Dimana Tuhan saat ini? Ini yang ditanyakan Elia. Elia salah menilai Tuhan. Dia beranggapan bahwa dia hanya bekerja sendirian, Allah tidak peduli! Bukankah ini yang kita alami jika kita menghadapi pergumulan yang berat dan mulai putus asa. Kita merasa bergumul sendirian! Padahal Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan kita bergumul sendiri, Dia ada seperti kehadiranNya dan menanyakan “Apa yang sedang kita kerjakan di sini?” Tinggalkan putus asa, lihat Tuhan tidak membiarkan Saudara bergumul sendiri. Datanglah pada Tuhan Yesus dan sampaikan kondisi Saudara dengan jujur.

2. Keputuasaan Menyebabkan Kita Salah Menilai Kondisi di Sekitar
Kita.
Rasa putus asa menyebabkan Elia memandang pergumulannya sangat berat dan laporannya pada Tuhan-pun jadi tidak tepat bahkan berbeda dengan kenyataannya! Perhatikan laporan Elia dan keadaan yang sebenarnya di bawah ini (ayat 10, 14).


Jangan terus dalam keputusasaan, kita jadi sulit melihat kenyataan yang sebenarnya yang seringkali tidak seburuk yang kita lihat dalam ‘kacamata’ keputusasaan. Bangkit dan bersemangatlah dalam Tuhan Yesus ada kekuatan dan pertolongan!

3. Keputusasaan Menyebabkan Kita Tidak Dapat Melihat Campur Tangan Tuhan Dalam Hidup Kita.
Keputusasaan Elia membuatnya tidak melihat tangan Tuhan yang sejak mulanya menjangkau hidupnya. Bahkan saat Elia takut dan putus asa, Allah sudah mengulurkan tanganNya untuk menolong, sayangnya Elia sudah dibutakan oleh rasa putus asanya. Bukankah murid-murid Tuhan Yesus mengalami hal yang sama ketika perahu mereka digoncang badai dan hampir tenggelam? Mereka juga tidak mampu melihat Tuhan yang datang dan menyebut Tuhan sebagai hantu! Tuhan tahu pergumulan Eli dan Tuhan bertindak! Bayangkan saja malaikat datang dan memberi makanan dan air untuk diminum (19:5). Seharusnya kehadiran malaikat sangat menguatkan Elia, tetapi tidak demikian itu ‘biasa saja’ bagi Elia. Apakah ada makanan dan minuman yang seajaib yang diterima Elia dari Tuhan? (19:6-8)Munculnya ajaib dan dampaknyapun ajaib, Elia dapat berjalan 40 hari ke gunung Horeb! Tapi itu juga nampaknya tidak menguatkan Elia. Terakhir, Tuhan berfirman dan hadir! Elia masih juga putus asa, nampak dari jawabannya pada Tuhan! (19:9-18). Inilah bahaya putus asa. Putus asa menutup mata dan telinga kita untuk dapat melihat campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan dan meninggalkan anak-anakNya! Ini yang Saya temukan di Alkitab dan Saya percayai, seperti halnya Elia tidak pernah ditinggalkanNya! Lihatlah, jika kita ada sampai hari ini, bukankah karena kekuatan dan kasih Tuhan Yesus? Perhatikan, Tuhan hadir dan berbicara kepada kita lewat firmanNya entah saat renungan pribadi atau di gereja. Bukankah Dia menyapa dan menguatkanSaudara?


Ada yang berputus asa hari ini? Awas, keputusasaan menyebabkan kita salah menilai Allah, salah menilai kondisi yang sebenarnya dan menghalangi mata dan hati kita untuk melihat campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Bangkit dan bersemangatlah, karena sebenarnya Tuhan kita, Yesus Kristus, tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita bergumul sendirian. Dia ada bagi Saudara. Bersemangatlah!

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 28 November 2010

Penyembuhan Orang Lumpuh Di Kolam Bethesda

YOHANES 5:1-17

Tuhan Yesus berangkat ke Yerusalem dan berada di kolam Bethesda, yang artinya rumah kemurahan. Di situ ada banyak orang sakit yang berkumpul di dekat kolam Bethesda. Mereka menunggu kalau air kolam itu digoncangkan malaikat Tuhan, maka mereka akan terjun ke kolam dan disembuhkan penyakitnya. Jadi, orang-orang sakit itu ‘bersaing’ satu dengan yang lain untuk mendapat kesembuhan. Seperti halnya dunia ini yang penuh dengan persaingan hidup. Di situ ada orang yang lumpuh sudah 38 tahun. Tuhan Yesus melihat dan menghampiri orang yang lumpuh itu.

I. Tuhan Yesus Memperhatikan Orang Lumpuh ( 5:5-7)
Tuhan Yesus bertanya kepada orang lumpuh: “Maukah engkau sembuh?” Pertanyaan Tuhan Yesus merupakan tawaran bagi orang lumpuh untuk sembuh. Orang lumpuh tidak mendapat kesempatan untuk turun ke dalam kolam bahkan tidak ada yang memperhatikannya. Tetapi Tuhan Yesus memeperhatikan orang lumpuh. Demikian pula dalam kehidupan kita, sekalipun tidak ada orang yang memperhatikan kita, namun Tuhan memperhatikan kita.

II. Keajaiban Melalui Kuasa FirmanNya (5:8-9)
Tuhan berkata kepada orang lumpuh: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Melalui firmanNya, Tuhan membuat keajaiban sehingga orang lupuh dapat berjalan, bahkan bukan hanya berjalan tetapi juga dapat mengangkat tilamnya. Luar biasa pekerjaan firman Tuhan. Karena firman Tuhan a. Menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (Roma 4:17)
b. Menyembuhkan yang sakit.
c. Menghidupkan orang yang mati
d. Mengubahkan hidup (I Petrus 2:2)

III. Ijinkan Tuhan Yesus Bertahta Dalam Hati Kita (5:10-13)
Ketika orang lumpuh menerima keajaiban kesembuhan, ia bersukacita, tetapi ia lupa siapa orang yang telah menyembuhkannya (ay. 13), bahkan Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak. Ketika kita diberkati Tuhan, jangan biarkan Tuhan Yesus “menghilang” dari hati kita. Ijinkan Tuhan Yesus selalu bertahta dalam hidup kita.

IV. Saksikanlah Pertolongan Tuhan! (5:14-15)
Orang lumpuh yang telah disembuhkan masuk ke dalam Bait Allah dan bertemu dengan Tuhan Yesus. Kesembuhan yang diperoleh digunakan untuk datang ke Bait Allah. Di dalam bait Allah, Tuhan Yesus berpesan supaya tidak berbuat dosa lagi. Rupanya orang lumpuh tersebut sakit karena dosa yang diperbuatnya. Demikian dengan setiap kesembuhan, pertolongan Tuhan digunakan untuk memuliakan Tuhan dalam baitNya, bertobat dan hidup benar sesuai dengan firman Tuhan. Orang lumpuh yang disembuhkan keluar dan menceritakan tentang Yesus yang menyembuhkannya. Demikian pula saharusnya setiap orang percaya menyaksikan Tuhan Yesus yang menyembuhkan dan menyelamatkan. Tuhan Yesus yang menguduskan kita dengan darahNya sendiri (Ibrani 13:12-13).

Akhirnya, marilah kita bersyukur bahwa Tuhan Yesus memperhatikan kita; Dia menyatakan keajaiban kuasa melalui firmanNya; Ijinkan TuhanYesus bertahta di hati kita; dan ceritakan /saksikan pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita. Karena Tuhan Yesus sendiri memberi teladan dengan terus bekerja sekalipun orang Yahudi berusaha menganiaya. Karena Bapa bekerja sampai sekarang, demikian pula Tuhan Yesus, demikian pula kita umatNya. Tuhan Yesus memberkati.

Pdt. Gersom Sunarto - Kupang- NTT

Minggu, 14 November 2010

MENABURLAH PASTI MENUAI!

2 KORINTUS 9:6-15

Orang yang menabur pasti menuai! Alkitab mengajarkan bahwa siapa yang menabur banyak, menuai banyak; menabur sedikit, manuai sedikit! Jika tidak menabur, bagaimana Saudara bisa menuai? Tuhan Yesus menyatakan bahwa jika kita memberi, kita-pun akan diberi dengan kelimpahan (Lukas 6:38a). Tetapi kita akan memperhatikan kebenaran Alkitab yang penting dalam hal menabur atau memberi!

MOTIVASI YANG BENAR DARI TABURAN YANG BAIK
Memberi tidak seharusnya didorong oleh keinginan supaya cepat kaya atau karena mengejar ‘berlipatnya’ taburan, mesipun itu adalah berkat dari menabur. Ada 2 motivasi yang benar yang mendasari taburan yang memperkenan hati Tuhan. Pertama, memberi karena di dorong kerinduan untuk menaati firman Tuhan. Menabur atau memberi bagi Tuhan (persembahan) dan memberi sesama yang membutuhkan adalah perintah Tuhan yang harus kita taati (lihat ayat 6-7). Kedua, memberi karena dorongan kasih Allah Tritunggal yang telah dan terus kita terima! Bapa memberikan Anak-Nya untuk menyelamatkan kita dan mengaruniakan Roh Kudus menyertai hidup kita. Bukankah ini berkat Allah yang sudah kita terima? Kesehatan, kesembuhan, pemeliharaan Allah setiap hari, mujizat dan masih banyak lagi yang Allah buat bagi kita bahkan akan dianugerahkan lagi sepanjang hidup kita. Tidakkah ini mendorong kita untuk mempersembahkan sebagaian harta kita bagi Dia dan sesama yang membutuhkan? Mari kita memberi karena kita mau belajar taat pada Firman Tuhan dan karena kita mau belajar membalas segala kasih dan kebaikanNya!

TABURAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN
Bagaimana menabur (baca: memberi persembahan) yang benar, yang menyenangkan hati Tuhan? Rasul Paulus memberikan kita jawabananya:

1. Memberi dengan murah hati (ayat 6).
Memberilah dengan murah hati, jangan pelit atau kikir! Yang menabur banyak, menuai banyak pula. Paulus mengajak kita meneladani jemaat Makedonia yang murah hati (2 Korintus 8:1-4). Meski dalam penderitaan dan kemiskinan jemaat Makedonia tetap menabur (memberi). ‘Memberi’ bukan masalah bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak memberi! Kedua, jemaat ini memberi sesuai dengan kemampuannya. Tentu saja Tuhan mengajar untuk memberi sesuai dengan kemampuan kita masiing-masing. Namun ada kalanya TUHAN menggerakkan kita untuk memberi ‘melampaui’ kemampuan kita. Ingat janda di bait Allah yang memberikan uang seluruh penghidupannya dan dipuji oleh Tuhan Yesus? (Lukas 21:1-4). Jemaat Makedonia melakukannya!

2. Memberi dengan rela hati (ayat 7).
Memberilah dengan rela hati! ciri-ciri orang yang rela hati memberi pada Tuhan dan sesama adalah tidak dengan bersedih atau denga hati terpaksa. Mari persembahan kita seharusnya didorong karena mau taat dan mengasihi Tuhan kita, Yesus Kristus!

3. Memberi dengan sukacita (ayat 7).
Memberi seharusnya dengan sukacita. Berilah dengan hati yang rindu memuliakan Tuhan dan penuh sukacita karena mengambil bagian dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan yang luar biasa! Lihat saja jemaat Makedonia yang justru mendesak Paulus agar mengikutkan mereka dalam pelayanan kasih (memberi sesama yang membutuhkan) dan ‘menerima’ persembahan mereka (8:4).

TUAIAN YANG MELIMPAH!
Apa berkat dari orang yang manbur dengan setia? Pasti menuai! Dan rasul paulus menegaskan ahwa tauainya berlimpah-limpah! Berkatnya berlimpah-limopah itu pasti!

1. Menerima segala kebajikan TUHAN yang berlimpah dan ‘turut’ meneguhkannya ! (ayat 8-9)
Ini berkat pertama yang sangat luar biasa. Ketika kita menabur dengan murah hati, rela dan penuh sukacita, maka kita akan dilimpahi kebajian Allah! Rasa cukup dengan angureha dan kebajikan Allah akan kita nikmati. Di sisi lain, saat kita menabur kita sedang meneguhkan kebajikan Allah bagi banyak orang yang menerima pemberian dari kita, anak-anak Allah(ayat 9).

2. Allah akan menyediakan benih untuk kita tabur kembali (ayat 10).
Saat kita menabur, maka TUHAN akan memberi kita benih-benih lagi untuk ditaburkan. Mengapa seringkali kita kekurangan? Dan merasa Allah tidak memberkati? Karena kita tidak menaburkan apa yang Allah berkatkan bagi kita! Tempat benih yang seharusnya ditabur masih penuh sehingga Dia tidak mengisinya! Taburlah, berilah, maka kita akan menerima berlimpah berkat-berkat Tuhan untuk ditaburkan kembali.

3. Allah akan memperkaya kita dengan segala kemurahan hati (ayat 11).
Ketika kita rajin menabur, kita akan segera sadar bahwa kita bertumbuh dalam karakter Kristus, yaitu kemuraha hati! Dengan memberi hari ini kepada Tuhan, melalui pekerjaan Tuhan, hamba Tuhan atau sesama yang membutuhkan, kita sedang menerima berkat yang ajaib, yaitu kemurahan hati yang ditumbuhkan oleh Allah dalam hidup kita.

4. Banyak ucapan syukur naik kepada Allah (ayat 11).
Orang yang menerima pemberian kita akan bersyukur kepada Tuhan. Kita bersyukur dapat memberi, mereka bersyukur menerima kemurahan Tuhan. Semakin ucapan syukur yang dinaikkan kepada Tuhan Yesus bukan? Mari menabur!

5. Allah dimulikan (ayat 12-13, 15)
Ketika kita memberi, maka nama Tuhan Yesus akan dipermuliakan. Bagaimana dunia dapat melihat kasih Tuhan, jika anak-anakNya kikir?

6. Kita menerima doa dari orang yang menerima taburan kita (ayat 14).
Selain berkat-berkat yang luar biasa di atas, ada satu lagi yang Paulus tunjukkan yaitu bagaimana doa dari orang-orang yang menerima kasih kita akan juga mengasihi kita dengan mendoakan kita.
Akhirnya, menaburlah, pasti Saudara menuai! Menuai dengan segala kelimpahannya. Pasti!

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 31 Oktober 2010

KERAJAAN YANG TIDAK TERGONCANGKAN

IBRANI 13:25-29

Bencana-bencana yang terjadi di bangsa kita seringkali membuat kita terkejut dan bertanya-tanya: “Mengapa hal itu harus terjadi?” “Bagaimana nasib mereka yang mengalaminya?””Bagaimana seandainya itu terjadi pada kita?” belum ditambah lagi dengan “goncangan” ekonomi. Ya, dunia tempat kita berada mengalami banyak goncangan. Tetapi sadarkah kita sebagai orang-orang percaya, kita memiliki Kerajaan yang tidak tergoncangkan. Tidak seperti kerajaan-kerajaan dunia ini? Penulis surat Ibrani memberitahu kita hal ini (Ibrani 12:28).
MENERIMA KERAJAAN YANG TIDAK TERGONCANGKAN
Sekalipun kita berada di tempat yang dapat digoncangkan, namun kita memiliki Kerajaan yang tidak tergoncangkan. Bagaimana kita menerimanya?

I. Tunduk Kepada Kekuasaan Raja Kerajaan Yang Tidak Tergoncangkan
Dalam kerajaan yang tidak tergoncangkan, ada Raja, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang harus kita taati dan hormati dalam setiap segi hidup kita. Kapan hal itu kita lakukan? Ketika kita tunduk dan taat kepada firman Tuhan yang adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Maz 119:105), berarti kita sedang mentaati dan menghormati Raja Kerajaan yang tidak tergoncangkan.

II. Memandang Pada Kekekalan Kerajaan Yang Tidak Tergoncangkan
Kerajaan yang tidak tergoncangkan menunjuk pada sesuatu yang bersifat kekal dan bukan sementara. Sebab itu kita harus mengarahkan pandangan pada kekekalan dan hidup dalam kekudusan dan kebenaran. Karena hidup kita bukan hanya di dunia yang dapat tergoncangkan ini, maka kita harus hidup kudus sampai kita masuk dalam kerajaan yang tidak tergoncangkan. Allah-lah yang memindahkan kita ke dalam Kerajaan AnakNya (Kol 1:13) dan Ia juga yang sanggup manjaga kita sampai masuk dalam kekekalanNya (Yud 1:24). Ketika kita mengalami “guncangan”, KerajaanNya yang tidak terguncangkan hadir dalam hidup kita, melalui kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rom 14:17)

III. Memiliki Sikap Yang Benar Sebagai Penerima Kerajaan Yang Tidak Tergoncangkan
Sebagai penerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, kita dituntut memiliki sikap hidup :
A. Mengucap Syukur
Melalui surat kepada Jemaat Tesalonika, Rasul Paulus mengajar kita untuk mengucap syukur senantiasa dalam segala hal (I Tes 5:18). Apakah kita dapat bersyukur senantiasa, terlebih pada saat situasi yang sulit sekalipun? Bersyukurlah senantiasa, karena kita adalah penerima kerajaan yang tidak tergoncangkan.

B. Hidup Menurut Tata Cara Kerajaan Yang Tidak Tergoncangkan
Kita dituntut memiliki sikap hidup yang sesuai dengan peraturan kerajaan yang tidak tergoncangkan, sehingga kita dilayakkan untuk tinggal di dalamnya. Tata Cara tersebut dapat kita ketahui dari firman Tuhan yang kita baca dan renungkan setiap hari.
C. Beribadah Kepada Tuhan Dengan Takut Dan Hormat
Seharusnya kita beribadah kepada Tuhan dengan takut dan hormat, karena Tuhan Yesus adalah Raja kerajaan yang tidak tergoncangkan. Mempersembahkan yang terbaik, yaitu hidup kita sebagai persembahan yang kudus, hidup dan berkenan kepadaNya (Roma 12:1-2). Berapa sering, kita beribadah dengan tidak takut dan hormat kepada Tuhan. Kita tidak sungguh-sungguh dalam memuji, menyembah dan mendengar firman Tuhan. Mari kita bertobat, dan mari beribadah kepada Dia dengan takut dan hormat. Ingatlah, kita adalah penerima kerajaan yang tidak tergoncangkan.

Akhirnya, sebagai penerima Kerajaan yang tak tergoncangkan, marilah kita tunduk kepada Raja, memandang kepada kekekalan, dan memiliki sikap hidup yang bersyukur, hidup menurut tata cara Kerajaan, dan beribadah kepada Tuhan dengan takut dan hormat. Amin!

Pdt. Adrian L. Manikome (Bitung)

Minggu, 24 Oktober 2010

SUKSES DALAM BEKERJA

Kejadian 39:1-23

Ingin berhasil dalam pekerjaan? Alkitab memberikan prinsip-prinsip untuk bekerja dengan efektif dan mencapai keberhasilan. Kejadian 39:1-23 memberikan kita prinsip-prinsip yang patut diteladani untuk menjadi pekerja yang berhasil. Yusuf adalah seorang pekerja yang sukses. Tetapi perlu digarisbawahi apa yang saya sebut kesuksesan menurut Alkitab. Pertama, sukses adalah pekerjaan yang berhasil (yang survive dan menghasilkan keuntungan). Ini sudah pasti. Kedua, sukses harusnya berarti ‘memberkati’ orang lain. Misalnya pemimpin dalam pekerjaan, sesama pekerja (karyawan atau sesama pebisnis) dan semua orang. Ketiga, yang paling utama, sukses disini harus berarti pekerjaan kita menyenangkan hati TUHAN kita, Yesus Kristus. Jadi, bukan hanya mencari keuntungan pribadi semata-mata. Ingat tujuan tertinggi setiap anak Tuhan apapun pekerjaan dan usahanya adalah menjadi serupa dengan Kristus sehingga hidup, keluarga dan pekerjaan kita memuliakan Tuhan Yesus saja!

RAHASIA BERHASIL DALAM PEKERJAAN
Mari kita renungkan prinsip bekerja di bawah ini dan kita lakukan dalam setiap pekerjaan kita sehingga pekerjaan kita dibuat TUHAN berhasil!

1. Penyertaan TUHAN! (ayat 2-3).
Rahasia yang paling penting dan utama dari keberhasilan seseorang dalam usaha (bekerja) adalah PENYERTAAN TUHAN, tidak ada yang lain! Perhatikan betapa penulis kisah Yusuf ini begitu menekankan bahwa penyertaan TUHAN-lah yang menjadikan kita berhasil, sehingga ia perlu menuliskan hingga 4 kali berturut-turut (lihat ayat 2, 3, 21 dan 23). Ya, hanya karena TUHAN menyertai kita,. kita dibuatNya berhasil Tanpa TUHAN kita bukan apa-apa, kita tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi oleh TUHAN kita dimampukan untuk mengerjakan sesuatu ! Jadi, betapa salahnya jika kita beranggapan bahwa yang menjamin keberhasilan kita adalah kemampuan kita mengelola, pendidikan bisnis, seminar-seminar, pengalaman kerja, koneksi, modal, kemampuan marketing dan sebagainya! Semua mungkin diperlukan, tetapi tanpa TUHAN, semua itu bukan apa-apa! Lalu apakah kita yakin kalau TUHAN beserta kita? Amin? Atau ada yang tidak dapat meyakini penyertaan Tuhan dalam hidupnya? Memang untuk menemukan peneguhan akan penyertaan Tuhan Yesus dalam hidup kita ada 2 hal yang penting. Pertama, Relasi yang intim dengan Tuhan Yesus. Iman Kristen adalah relasi bukan sekedar ucapan bibir bahwa percaya Tuhan Yesus! Apakah Saudara memiliki relasi yang intim dengan Tuhan? Ibadah tidak, doa pribadi dan baca Alkitab tidak juga, apalagi persekutuan dengan sesama orang percaya tidak pernah. Tidak mengherankan jika Saudara menjadi bimbang, bahkan mengira Tuhan ‘jauh’. Kedua, peneguhan akan penyertaan Tuhan Yesus didapat dalam kehidupan yang takut akan Tuhan, hidup benar! Bukankah yang memisahkan kita dengan Allah adalah dosa dan kejahatan kita? (Yesaya 59:1-2). Jika kita hidup dalam dosa apakah itu menunjukkan Tuhan menyertai kita? Justru menunjukkan sikap praktis kita bahwa Tuhan ‘tidak ada’, buktinya demikian mudah kita, tanpa takut pada Dia, melakukan dosa dan kejahatan. Mari hidup dalam kebenaran FirmanNya dan renungkan betapa penyertaanNya begitu nyata dalam hidup dan usaha kita.

2. Berintegras (ayat 6-20).
Berintegras artinya, memiliki mutu, sifat dan keadaan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran (KBBI). Secara sederhana berintegritas berarti hidup takut akan Tuhan, kehidupan yang selalu sadar bahwa hidup ini, termasuk pekerjaan, diawasi oleh Tuhan Yesus di mana dan kapan saja. Yusuf seorang yang berintegras. Integritas seseorang akan nyata saat ujian dan godaan datang! Dan Yusuf sudah membuktikan bahwa dia berintegritas. Awas godaan datang dengan memberi kita kesempatan untuk jatuh dalam dosa dan kejahatan yang merusakkan integritas kita sebagai pekerja Kristen! Selanjutnya godaan selalu datang dengan tawaran yang menggiurkan namun berakhir celaka! Misalnya cepat kaya, kesempatan untuk sukses dengan menghancurkan orang lain, mencari untung dengan merugikan orang lain dan dosa lainnya! Ingin sukses, jadilah pekerja yang berintegritas.

3. Berdedikasi (ayat 3, 6).
Yusuf seorang pekerja yang berdedikasi, mengabdikan dirinya. Ini menyangkut kerajianan dan kesungguhan dalam bekerja. Lihat saja, Yusuf bekerja sampai Potifar, bosnya, “tidak usah mengerjakan apa-apa lagi”. Tuhan memberkati orang yang rajin bekerja dan bersungguh-sungguh dalam bekerja.

4. Mengembang diri.
Yusuf seorang pekerja yang mengembangkan dirinya terus menerus. Yusuf bukanlah seorang muda yang merantau untuk mencari pekerjaan dan pengalaman! Sebelumnya dia adalah “anak papa” yang tinggal di kemah, namun Yusuf berhasil menjadi pelayan di rumah Potifar dan dipercaya menjadi kepala rumah di sana. Kalau bukan karena mau dan berusaha mengambangkan diri, apa yang dilakukan Yusuf? Lihat bagaimana dia mengem-bangkan kompetensinya saat dipenjara dan kemudian Tuhan buat berhasil dan ‘layak’ menjadi pejabat negara Mesir! Saudara harus mengem-bangkan diri.

5. Tidak mudah menyerah (ayat 20-23).
Kehidupan Yusuf tidak langsung sukses, bahkan penuh tantangan, namun dia tidak pernah menyerah! Tantangan bukan penghalang keberhasilan, tetapi justru mengokohkan keberhasilan di masa yang akan datang. Jangan mudah menyerah, pandanglah betapa besar TUHAN kita Yesus Kristus dan bergantunglah padaNya! Tuhan Yesus Memberkati

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 17 Oktober 2010

MENJADI KAYA, MAU?

(STUDI MENGENAI KEKAYAAN MENURUT KITAB AMSAL)

Menjadi kaya merupakan keinginan semua orang. Tidak ada orang yang tidak mau kaya. Bahkan segala usaha dilakukan supaya menjadi kaya. Namun untuk menjadi kaya ada hal-hal penting yang harus diperhatikan. Dan Kitab Amsal memberikan kepada kita rahasia bagaimana menjadi kaya yang sesuai dengan firman Tuhan.

Hal Pertama Yang Harus Kita Ketahui:
Inilah hal pertama yang harus bagi Saudara yang mau kaya, ketahui Keinginan untuk cepat menjadi kaya adalah perkara yang dilarang Tuhan (Ams 28:20; 23:4-5). Tuhan melarang apabila:
a. Ada nafsu / desire untuk menjadi kaya (band. Terjemahan KJV dan NIV).
b. Bahaya menghalalkan segala cara.
Rasul Paulus juga mengingatkan kita agar jangan “ingin kaya” dan mengejar uang (I Tim 6:6-10), karena berakibat:
- Terjatuh dalam pencobaan, jerat nafsu yang hampa dan mencelakakan dan membinasakan.
- Menyimpang dari iman
- Menyiksa diri dalam berbagai-bagai duka.

RAHASIA MENJADI KAYA MENURUT KITAB AMSAL
I. Menyadari Bahwa Tuhan Adalah Sumber Berkat (Ams 10:22; 22:2)
Tuhanlah yang menjadikan kita kaya. Dia berdaulat menjadikan kaya dan miskin. Dan hal ini menunjukkan dua hal, yang pertama, menolak segala usaha (bekerja) dengan mengandalkan kekuatan sendiri tanpa Allah! Kalau kita menyadari bahwa Tuhan-lah sumber berkat, maka kita seharusnya bekerja segiatnya dengan mengandalkan Tuhan. Kedua, ini menolak paham fatalisme dimana kalau seseorang miskin, ini karena nasibnya memang jadi orang miskin. Benar Tuhan-lah yang berdaulat, tetapi siapa yang tahu nasib (keputusan akhir)? Tidak ada kan? Sebab itu Tuhan juga mengajarkan kita untuk bekerja segiatnya dan bergantung kepada Tuhan.

II. Rajinlah Bekerja (Ams 10:4)
Tuhan memberkati orang-orang yang rajin bekerja. Kemalasan hanya menghasilkan kemiskinan. Tuhan memberi contoh binatang semut yang rajin dalam bekerja yaitu mengumpulkan makanan (6:6-11). Rajin bekerja tidak sama dengan gila kerja. Orang yang gila kerja tidak memperdulikan waktu-waktu dalam hidupnya (waktu untuk beribadah, keluarga, istirahat, dst), yang penting bekerja. Jelas bukan ini yang dimaksud dengan ‘rajin bekerja’! Masih ingat slogan “ora et labora” yang artinya berdoa dan bekerja? Jelas bahwa sekalipun kerajianan penting, namun berdoa dan ibadah kepada Tuhan harus menjadi prioritas utama kita (bandingkan dengan bagian I).

III. Jangan Pelit (Ams11:24-27)
Sumbat kelimpahan dari Tuhan adalah kekikiran! (Ams 28:22). Seringkali kita tidak diberkati Tuhan karena kita kikir atau pelit. Amsal berkata bahwa ada yang menyebar harta justru kelimpahan, tetapi yang pelit akan menjadi kekurangan dalam hidupnya. Jangan pelit! Pertama, jangan pelit kepada Tuhan. Kembalikan persepuluhan, yang adalah milik Tuhan. Bukankah Allah berjanji untuk membuka tingkap-tingkap langit dan memberkati kita? (Maleakhi 3:10). Mari belajar memberikan persembahan syukur persembahan bagi pekerjaan Tuhan, pembangunan dan bagi para hamba Tuhan. Siapa banyak menabur akan menuai bukan? (Ams 3:9-11). Memberi persembahan juga tidak perlu m
enunggu kita diberkati limpah, namun melalui berkat yang ada, kita belajar memberi persembahan kepada Tuhan dan Tuhan Yesus pasti memberkati kita. Kedua, tidak pelit pada sesama. Mari kita belajar memberi sesama, saudara seiman yang kekurangan, sesama yang membutuhkan pertolongan, yang sakit dan membutuhkan bantuan. Dan lihatlah bagaimana Tuhan memberkati kita dengan limpah!

IV. Belajar Mengatur Keuangan (Ams 13:11)
Kebocoran dalam hal keuangan kita seringkali karena TIDAK DAPAT MENGATUR keuangan kita dengan baik dan benar. Penulis Amsal dengan jelas mengajar untuk mengatur keuangan dengan baik dan benar. Dahulukan milik Allah, yaitu persepuluhan, baru kemudian kebutuhan pokok kita dan baru hal-hal yant tidak pokok dan akhirnya harus menabung! Ini susunan prioritasnya. Jadi, berhemat adalah perlu. Tetapi perlu diingat bahwa hemat tidak sama dengan kikir/pelit. Jangan kita konsumtif (suuka belanja bahkan yang tidak perlu atau yang tidak kita butuhkan). Juga jangan berfoya-foya (Ams 21:17). Terakhir, menabunglah karena menabung adalah bagian dari mengatur keuangan yang baik. Kita harus belajar menabung dengan demikian menempatkan diri sebagai orang yang bijak (13:1).

V. Hiduplah Takut Akan Tuhan (Ams 22:4; 28:20)
Kekayaan merupakan janji (berkat) Tuhan bagi orang yang takut akan Dia. Sikap takut akan Tuhan harus nyata waktu kita bekerja! Misalnya bekerja dengan jujur, tidak korupsi uang perusahaan, bekerja dengan giat sekalipun majikan tidak ada di tempat dan sikap-sikap benar yang lain yang merupakan wujud rasa takut kita kepada Tuihan Yesus (Lihat ayat-ayat praktis yang menegaskan sikap takut aan Tuhan dalam bekerja ini: Ams 10:2; 21:6; 13:22; 22:16). Takut akan Tuhan juga harus nyata dalam mengelola keuangan. Jangan tidak jujur terhadap Tuhan. Ingin diberkati denngan limpah? Takutlah akan Tuhan kita, Yesus Kristus.

Akhirnya, lakukanlah prinsip Alkitab dan lihatlah bagaimana Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Pemberkat memberkati kita dengan limpah dalam segala kemurahanNya.

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 29 Agustus 2010

SEKS & KELUARGA

Masalah seks memang jarang disampaikan dalam khotbah, karena seringkali dianggap tabu dan sebagainya. Namun Alkitab dengan jelas mengatur bagaimana peranan seks dalam keluarga Kristen. Dalam hal ini rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus menyampaikan bagaimana seharusnya seks yang benar dalam hubungan suami isteri dan pengaruhnya dalam keluarga.

DOSA SEKS

Dosa seks merupakan salah satu dosa yang merusak dan menghancurkan pernikahan dan keluarga Kristen. Dosa seks yang terus berkembang dan menghancurkan orang-orang yang melakukan, bahkan membuat banyak keluarga hancur karena dosa ini. Sebut saja, diantaranya:
a. Pornografi dan pornoaksi yang sangat merusak.
Pornografi seringkali “disusupkan” dalam berbagai tayangan TV, komik anak-anak, majalah-majalah dan banyak lagi.
b. Perselingkuhan dan ketidaksetiaan yang dianggap biasa. Perselingkuhan menjadi tren dan dianggap sesuatu yang biasa atau wajar. Tidak sedikit lagu-lagu dunia yang mendukung terjadinya perselingkuhan. Lalu bagaimana keluarga kristen menyikapi tantangan yang besar ini?

I. Apa Kata Alkitab?

A. Seks adalah anugerah Tuhan bagi pasangan suami isteri dalam Tuhan (Kejadian 1:28, band. 2:25)

Tuhan-lah yang menciptakan seks. Seks bukanlah akibat dosa. Tetapi sebelum manusia jatuh dalam dosa, Allah telah mengaruniakan seks kepada manusia. Allah yang memerintahkan manusia beranak cucu dan bertambah banyak (Kej 1:28). Tuhan juga yang memberikan seks sebagai jalan keluar dari percabulan (ayat 1-2)

B. Dalam Tuhan Seks Itu Kudus
Bagi Tuhan seks itu kudus dan merupakan kehendak Tuhan supaya anak-anakNya hidup kudus (6:13 band I Tes 4:3). Tuhan membenci dan menghukum dosa percabulan. Tuhan memerintahkan kita menikah dan menjauhi percabulan.

II. Kita Harus Berperan Aktif Dalam Kehidupan
Kudus

Peran aktif orang tua. anak dan pasangan suami isteri sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan dosa seks
A. Bagi Orang Tua
Dalam menghadapi tantangan dosa seks, maka seharusnya orang tua:
1. Memberikan teladan hidup kudus bagi anak-anaknya.

Kalau orang tuanya saja tidak hidup dalam kekudusan, bagaimana anak-anaknya mau hidup kudus? Dalam hal ini teladan orang tua sangat diperlukan. Apakah sebagai orang tua, kita sudah memberikan teladan hidup kudus kepada anak-anak kita?
2. Mengajarkan kehendak Tuhan mengenai seks dan hidup kudus.

3. Mendidik anak-anak dalam disiplin yang penuh kasih dan jangan lupa mendoakan mereka.

B. Bagi Anak-anak

Demikian pula anak-anak harus berperan aktif dalam hidup kudus dengan:
1. Taat kepada orang tua dalam Tuhan.
2. Menjauhi percabulan dan seks pranikah, karena itu dosa.
Yusuf, merupakan salah satu tokoh di Alkitab yang dapat menjadi contoh bagaimana menjauhi dosa seks. Ketika isteri Potifar berusaha membujuk Yusuf untuk tidur dengannya, maka Yusuf mengambil tindakan lari dan menjauhi isteri Potifar (Kej. 39). Dosa seks sangat mematikan, sebab itu jauhi. Selalu waspada ketika kita bergaul dan berpacaran.
3. Berdoa bagi orang tua supaya orang tua tetap utuh, bahagia dan diberkati.

Sangat penting bagi anak untuk mendoakan orang tua, bukan hanya menuntut teladan.


C. Bagi Pasangan Suami Isteri

1. Suami dan isteri wajib memenuhi kewajibannya
(ayat 3), yaitu kewajiban seksual.
Apabila seorang suami atau isteri tidak melakukan kewajibannya, hal ini akan memicu terjadinya percabulan dan perselingkuhan. Seharusnya setiap pasangan suami isteri menyadari hal ini.

2. Suami isteri berhak atas tubuh pasangannya
.

Suami isteri adalah satu tubuh/daging, sehingga masing-masing berhak atas tubuh pasangannya. (ay. 4).

3. Jangan saling menjauhi kecuali karena persetujuan (sementara) dan karena mau berdoa
(ay. 5). Alkitab memberikan kelonggaran untuk suami isteri saling berjauhan untuk sementara waktu. Dan “waktu” ini dipergunakan untuk berdoa. Setelah itu harus segera kembali supaya iblis tidak menggunakan kesempatan tersebut untuk menggoda dan merusak rumah tangga kita.
Akhirnya, marilah kita sebagai keluarga Kristen memiliki sikap yang benar terhadap seks dalam keluarga; Apa kata Alkitab dan perlunya peran aktif setiap anggota keluarga.
Tuhan Yesus memberkati setiap keluarga kita.


dikhotbahkan oleh: Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th
.

Minggu, 15 Agustus 2010

BANGUN DALAM PENGHARAPAN

Roma 5:1-11
Melalui suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul paulus mengajak setiap orang Kristen memiliki pengharapan dalam hidupnya. Karena pengharapan itulah yang memampukan orang Kristen menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat. Sekalipun banyak tantangan dan pergumulan hidup.


APA YANG DIMAKSUD PENGHARAPAN?

Pengharapan adalah bayangan (visi) akan terjadinya perubahan yang lebih baik dimasa depan. Orang yang kehilangan pengharapan (putus asa) adalah orang yang kehilangan makna dan tujuan hidup!

Berdasar penelitian umum, ada 14 pikiran orang yang putus asa:
1. Saya tidak berharga
2. Saya tidak berharga untuk diperhatikan atau disayang orang lain
3. Saya tidak sebaik orang lain
4. Saya gagal dalam hubungan sosial
5. Orang-orang sudah tidak menghormati saya lagi
7. Saya tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah saya
8. Saya telah kehilangan satu-satunya teman yang saya miliki
9. Saya memiliki hidup yang tidak berharga untuk dijalani
10. Saya lebih buruk dari orang lain
11. Saya tidak dibantu oleh siapapun
12. Tidak ada yang peduli kepada saya
13. Tidak akan ada lagi jalan keluar untuk saya
14. Saya sudah tidak menarik lagi

Dari ke14 kesimpulan di atas kita dapat menarik kesimpulan, bahwa:
a. Mereka berpikir negatif kepada diri sendiri dan sekitarnya.
b. Mereka merasa sendirian

Bagaimana menjadi orang Kristen yang berpengharapan (tidak putus asa)?

DASAR PENGHARAPAN ORANG KRISTEN
Melalui nats yang kita baca, ada tiga dasar pengharapan orang Kristen:

I. Kita sudah diselamatkan Tuhan (ayat 2)

Sebelum kita diselamatkan oleh Tuhan Yesus, kita adalah orang yang berdosa, dan dosa itulah yang membuat makna dan tujuan hidup kita hilang. Dan keselamatan oleh kematian Tuhan Yesus di kayu salib mengembalikan makna dan tujuan hidup manusia (1 Petrus 1:18-19). Tuhan begitu menyayangi dan menghargai kita.Sangat keliru jika kita tidan menyayangi dan mensyukuri hidup kita. Sebab itu jangan putus asa.

II. Kita sedang dibentuk oleh Tuhan (ayat 3-4)

Kesengsaraan yang kita alami hanya sebagai "alat" untuk membentuk kita semakin indah di hadapan Tuhan. Bagi orang yang putus asa, masalah dipandang sebagai hal yang negatif (berpikir bahwa Allah tidak baik, dan sebagainya), tetapi bagi orang Kristen, masalah (yang bukan karena dosa)adalah bagian dari rencana Allah yang indah dalam hidup kita.

III. Kita disertai oleh Tuhan (ayat 5)

Allah kita, Allah yang turun ke dunia, mati bagi kita dan menyertai kita. Bahkan setelah naik ke sorga, Ia tidak membiarkan kita sendirian, tetapi mengutus Roh Kudus untuk tinggal bersama orang percaya. Bagi orang yang berputus asa, ia berpikir bahwa ia sendirian. Tetapi bagi orang Kristen, berpikir bahwa ada Allah Roh Kudus yang menyertai dalam segala masalahnya.


Masih merasa putus asa dalam menjalani hidup ini? Ingat, ada tiga dasar pengharapan bagi orang Kristen. Seharusnya kita menjadi orang Kristen yang bangun dalam pengharapandan terus berpengharapan dalam mejalani hidup ini. Tuhan Yesus memberkati!


Pdt. Samuel Hendrarto (Surabaya)

Minggu, 08 Agustus 2010

BERKAT DARI SALIB KRISTUS

YESAYA 53:5
“Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karenakejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya, dan oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh.” Ayat-ayat ini adalah nubuat dari nabi Yesaya. Nabi Yesaya menubuatkan kematian Tuhan Yesus dikayu salib jauh sebelum peristiwa penyaliban itu terjadi.

I. Yesus-lah yang dinubuatkan!
Apakah benar Tuhan Yesus yang dinubuatkan? Jika kita memeriksa nubuatan Yesaya, kita akan menemukan betapa spesifiknya nubuatan Yesaya dengan kematian Kristus di kayu salib! Dari ayat 5 saja kita akan melihat ‘kesamaan’ atau penggenapannya dalam Kristus. Kematian yang digambarkan Yesaya sangat khusus. Pertama, jelas bahwa Tuhan Yesus ‘diremukkan’. Lihat dalam Yohanes 19:1-3. Bukankah Yesus disiksa sejak di rumah Hanas hingga pengadilan Pilatus? Kedua, istilah ‘tertikam’ sangat khusus sebab pada zaman kekaisaran Roma, orang yang disalibkan dibiarkan mati di kayu salib. Sementara kalau sudah saatnya diturunkan, maka akan dipatahkan kedua kakinya, tetapi hanya Tuhan Yesus yang ditikam lambungNya karena Dia sudah mati (Yohanes 19:31-34). Ya, Tuhan Yesus-lah yang dinubuatkan. Dialah Mesias, Juruselamat kita. Sebab itu mari kita semakin teguh dalam iman pada Tuhan Yesus yang telah mati bagi kita.

II. Alasan kematian Yesus.
Yesaya 53:5 menegaskan alasan kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Yesaya tidak menyebutkan bahwa kematianNya karena pengkhianatan Yudas Iskariot. Bukan pula karena ketakutan Pilatus untuk membela kebenaran. Atau bahkan bukan karena kejahatan orang Yahudi yang ditangkap mereka dari film “The Passion of Christ” yang beberapa waktu dilarang diputar di Israel. Yesaya menunjukkan alasan yang terdalam dari kematian Tuhan Yesus dikayu salib, yaitu karena pemberontakan dan kejahatan kita. Ya, karena dosa kita-lah, Kristus menderita dan mati di kayu salib. Dia tanggung semua hukuman yang seharusnya diterima manusia berdosa, termasuk kita! Nah, jika oleh karena dosa kita, Dia sengsara dan mati tersalib, masihkah kita hidup dalam dosa dan kejahatan? Tidakkah kita tergerak untuk hidup dalam kebenaranNya dan menyenangkan hatiNya? Mari kita buang dosa dan belajar hidup dalam kebenaran.

III. Berkat dari kematian Yesus.
Yesaya bukan hanya menubuatkan siapa yang mati tertikam di kayu salib dan apa alasannya hingga sedemikian sengsara, tetapi juga ganjaran (upah) dari yang diperbuat Sang Mesias. Ada berkat yang turun dari kayu salib. Dan itu pasti bagi kita, yang percaya kepada Tuhan Yesus! Berkat yang pertama adalah keselamatan. Kematian Kristus di kayu salib mendatangkan keselamatan bagi kita. Hubungan yang rusak dengan Allah dipulihkan. Keselamatan dalam bahasa Ibrani digunakan kata “Shalom” yang seringkali kita artikan damai sejahtera. Memang, damai sejahtera kita terima oleh pengurbanan Kristus di kayu salib! Karena dosa kita menjadi musuh (seteru) Allah, tetapi oleh kematian Kristus kita diperdamaikan dengan Allah. Ketika kita diperdamaikan dengan Allah, kita juga diperdamaikan dengan diri sendiri dan sesama! Kedua, oleh bilur-bilurNya. kita menjadi sembuh! Seringkali ayat ini diartikan secara rohani. Dan memang benar, kita disembuhkan dari ‘penyakit’ dosa oleh kematian Kristus. Tetapi ini juga menunjukkan bahwa oleh kematianNya sakit kita disembuhkan.

Mari kita bersyukur karena kematian Tuhan Yesus mendatangkan berkat keselamatan dan pemulihan atas hidup kita. Mari kita semakin teguh dalam iman dan hidup menyenangkan hati Tuhan karena kita telah menerima berkat dari kayu salib. Tuhan Yesus memberkati!

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 25 Juli 2010

MEMPERTAHANKAN SUKACITA KRISTEN

FILIPI 4:1-9

Ditengah banyaknya masalah dan pergumulan dalam hidup ini, apakah masih ada sukacita dalam hati kita? Hal ini memang tidak mudah, tetapi kita perlu memiliki sukacita karena itu adalah perintah Tuhan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4). Kata “sukacita” itu sendiri di tulis 14 kali dalam surat Filipi. Rasul paulus sebagai penulis telah mengalami bagaimana harus bersukacita sekalipun dalam situasi kondisi yang sulit. Dan sekarang ia mengajar kepada kita, para pembaca suratnya. Seperti kita ketahui, surat Filipi ditulis oleh rasul paulus dalam penjara. Sebuah kondisi yang sebenarnya sulit untuk bersukacita. Tentu ada rahasia mengapa rasul Paulus dapat mempertahankan sukacita dalam hatinya.

Rahasia Mempertahankan Sukacita:

Ada tiga rahasia, bagaimana mempertahan kan sukacita dalam hati kita:

I. Bersikap bersukacita (ay. 4)

Untuk dapat bersukacita, pertama-tama kita perlu memiliki sikap bersukacita. Tentunya diperlukan kemauan untuk belajar bersukacita. Mungkin hanya sedikit tersenyum, dan ini perlu belajar dan belajar. Jangan putus asa!

II. Jangan Kuatir (ay. 6)
Kekuatiran merupakan peredam terjitu bagi sukacita.Bayangkan saja suatu misal, ditengah sukacita kita memuji Tuhan di gereja, tiba-tiba kita teringat tentang pintu rumah yang kemungkinan belum terkunci. Dan kita menjadi kuatir dan secara otomatis sukacita menjadi hilang. Sebab itu kita perlu waspada dengan kekuatiran. Tidak kuatir, berarti kita menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan dalam doa. Doa merupakan suatu tidakan dimana kiat berkomunikasi, berbincang-bincang dengan Allah. Ketika kita dapat “curhat” kepada sesama kita saja, kita sudah merasa lega walau hanya beberapa saat. Apalagi bila kita menyampaikan segala doa kita kepada Allah. Ini sesuatu yang luar biasa. Untuk mempertahankan sukacita, kita perlu menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan. Setelah kita menyerahkan segala kakutiran kita kepada Tuhan, Alkitab berkata; “... maka damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (ayat 7)

III. Berpikir Dan Bertindak Positif.

Yang berikutnya, untuk mempertahan-kan sukacita, kita perlu berpikir dan bertindak positif. Perhatikan ayat 7, Firman Tuhan mengajar kita untuk memikirkan hal-hal yang positif (semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan,...). Karena ketika kita mulai berpikir negatif kepada sesuatu hal atau tentang sesama kita, maka sukacita kita akan hilang. Sesudah kita berpikir positif, kita perlu melanjutkannya dengan bertindak positif. Perhatikan ayat 9, rasul Paulus mengajak kita melalkukan segala sesuatu yang positif, sebagaimana
rasul Paulus mengajar dan memberi teladan. Dan ketika kita sudah berpikir dan bertindak positif, maka Allah sumber damai sejahtera akann menyertai kita. Bandingkan dengan ayat 7, di ayat 9, Allah sendiri sebagai sumber damai sejahtera yang akan memberkati kita.

Akhirnya, marilah kita mempertahan kan sukacita kita dengan selalu memiliki sikap be
rsukacita, menyerahkan segala kekuatiran, dan marilah kita berpikir dan bertindak positif. Tuhan Yesus memberkati.

Pdt. Dr. Ichwe G. Indra (Surabaya)

Minggu, 18 Juli 2010

KEPUTUSAN UNTUK BERIBADAH KEPADA TUHAN

YOSUA 24:15
Dunia menawarkan banyak hal untuk kita tidak beribadah kepada Tuhan. Akan tetapi hendaknya setiap keluarga Kristen yang percaya kepada-Nya hendaknya seperti Yosua yang tetap setia beribadah kepada Tuhan sekalipun bangsanya beribadah kepada allah lain. Ini merupakan keputusan yang memuliakan Tuhan. Dan ini merupakan tanggung jawab dari para suami sebagai kepala keluarga, sehingga yang berperan bagi kerohanian keluarga adalah sang suami. Sebagai suami, apakah peran kita sudah benar bagi keluarga kita? Beberapa contoh suami di Alkitab yang kehidupannya tidak benar sehingga mengakibatkan kesengsaraan bagi keluarganya diantaranya: (a) Nabal, seorang yang bebal, (1 Samuel 25:24-25), (b) Ahab, yaitu seorang yang tunduk atau ikut kepada isterinya yang jahat, (1 Raja-raja 16:29-31). Ketika seorang suami, pemimipin keluarga salah dalam mengambil keputusan, maka berakibat buruk bagi keluarganya.

Mengapa Yosua berani mengambil keputusan untuk tetap beribadah kepada Tuhan?

Di hadapan bangsa Israel yang tegar tengkuk, yang banyak kali menduakan Allah dengan banyak berhala, Yosua bersama keluarganya mengambil keputusan untuk beribadah hanya kepada Tuhan, karena:
1. Yosua mengutamakan apa yang harus diutamakan, yaitu Allah.
Yosua mengerti dengan sungguh siapa Allah, karena dia dididik sejak kecil tentang Allah, serta dia juga mengerti segala perbuatan ajaib yang Tuhan buat bagi bangsa Israel melaui Musa, sehingga dia berani mengambil keputusan untuk mengutamakan Allah dari pada yang lain. Demikian juga dengan kita, apakah kita sudah mengutamakan Tuhan di atas segala-galannya? Atau kita lebih mengutamakan yang lain (perkara-perkara dunia), sedang Tuhan nomor yang ke sekian? Dalam Yesaya 58:13-14 dikatakan bahwa jika kita mengutamakan Allah maka akan ada jaminan pemeliharaan, baik makanan, minuman dan lain sebagainya. Marilah kita semakin melekat kepada Tuhan karena Tuhan berasal dari Sorga, sehingga Dialah segala-galanya (Yohanes 31:31).
2. Yosua memiliki tugas tanggung jawab atas rumah tangganya untuk membawa keluarganya berjalan di jalan Tuhan.
Yosua mengetahui janji berkat yang Tuhan berikan apabila umat Tuhan beribadah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh , maka dia pun memiliki tugas tanggung jawab untuk membawa keluarganya kepada Tuhan. Seperti contoh dalam Yohanes 4:46-54, dikisahkan seorang kepala keluarga yang tahu bahwa hanya Yesus yang sanggup menyembuhkan anaknya maka dia mengambil tindakan yang tepat untuk membawa anaknya kepada Yesus. Bagaimana dengan kita? Sebagai pemimpin rumah tangga kita memiliki tanggung jawab untuk membawa keluarga kita beribadah kepada Tuhan.
3. Yosua Melibatkan Tuhan di dalam kehidupan keluarganya.
Keputusan Yosua dan keluarga untuk beribadah kepada Tuhan merupakan sebuah tindakan melibatkan Tuhan dalam kehidupan keluarganya.
Dalam kehidupan ini Tuhan ingin kita melibatkan Dia dalam segala sesuatu. Hal ini dapat terwujud apabila dimulai dari kepala keluarga yang hidup dekat dengan Tuhan (Yohanes 15:15) dan melalui ibadah. Ibadah merupakan suatu komitmen yang total, dalam arti ada penyerahan hidup secara total di dalam Tuhan (Roma 12:1). Ibadah yang sungguh-sungguh adalah hadirnya Tuhan dalam kehidupan kita. Apakah kita melibatkan Tuhan dalam keluarga kita? Didalamnya dibutuhkan seorang pemimpin yang hidup dekat dengan Tuhan dan membawa keluarganya beribadah kepada Tuhan.
Akhirnya, marilah kita mengambil keputusan untuk beribadah kepada Tuhan, bukan kepada yang lain. Kita beribadah kepada Tuhan karena kita mengutamakan Tuhan; merupakan sebuah tanggung jawab; serta bukti bahwa kita melibatkan Tuhan dalam keluarga kita.
Tuhan Yesus memberkati.


Pdt. Adrian L. Manikome (Bitung- Sulut)

Minggu, 11 Juli 2010

KASIH KRISTUS Dasar Hidup Berkeluarga

YOHANES 13:34; EFESUS 5:25-27
Tuhan Yesus memberikan perintah yang baru, yaitu agar para muridNya saling mengasihi! (Yohanes 13:34). Kita harus saling mengasihi dalam jemaat Tuhan. Namun persekutuan yang terkecil adalah keluarga Kristen! Dan ini adalah standart mengasihi: MENGASIHI SEPERTI KRISTUS MENGASIHI! Ini juga yang kita temukan dalam Efesus 5:22-6:1. memang rasul Paulus menekankan bahwa para suami harus meneladani Kristus karena memang Paulus menekankan hubungan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:25-27). Namun Saya percaya bahwa bukan hanya suami, tetapi seluruh anggota keluarga, istri dan anak-anak juga harus meneladani Kristus. Dan yang terpenting, dalam surat Efesus inilah kasih Kristus diceritakan secara jelas dan tegas. Itu sebabnya Efesus 5:25-27 Saya ambil menjadi dasar memahami kasih Kristus!
Bukan harta, kekayaan, pendidikan yang tinggi dan kesuksesan yang mendasari sebuah keluarga yang bahagia dan diberkati Tuhan. Sudah terbukti banyak keluarga hancur justru saat memiliki semuanya. Alkitab memberikan kita dasar keluarga yang bahagia dan diberkati Tuhan, yaitu MENDASARKAN KEHIDUPAN BERKELUARGA PADA KASIH KRISTUS! Nah, jika demikian, bagaimana mendasarkan kehidupan berkeluarga pada kasih Kristus?

1. Kasih KRISTUS Harus Menjadi PENGGERAK Setiap
Anggota Keluarga Untuk Saling Mengasihi.

Kasih Kristus harus menjadi ‘motor’ bagi setiap anggota keluarga untuk salingmengasihi! Paulus mendoakan agar jemaat mengenal dan memahami betapa dahsyatnya kasih Kristus (Efesus 3:18-19). Dengan memahami kasih Kristus, kita dapat dan dimampukan untuk mengasihi seperti Kristus! Kenal kasih Kristus? Benar, Tuhan Yesus mengasihi kita sampai mati di kayu salib.
Dan kasih inilah yang seharusnya menjadi pendorong atau motivasi kita mengasihi keluarga kita. “Karena saya tahu bahwa Kristus sungguh-sungguh sudah mengasihi saya, maka saya harus mengasihi keluarga saya!” Kegagalan keluarga saling mengasihi seringkali karena kita mengasihi karena kita melihat kebaikan anggota-anggota keluarga, jika tidak, kitapun membalas dengan perbuatan yang sama. Apa yang menjadi motif kita mengasihi keluarga. Mari kita dasarkan bahwa Kasih Kristus-lah yang mendorong kita untuk mengasihi keluarga kita.Hal kedua yang harus kita pahami yaitu bahwa kasih Kristus sudah dicurahkan Roh Kudus dalam hidup setiap orang Kristen! (Roma 5:5). Jadi setiap orang Kristen memiliki kasih Kristus. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mengasihi keluarga kita; suami dengan isteri, anak-anak dengan orang tua. “Karena kasih Kristus ada dalam hidup saya, maka saya mengasihi keluarga saya!” Tidak ada alasan untuk tidak mamu berbagi, mengasihi, mengampuni dan melayani keluarga kita, sebab kasih Kristus yang memampukan kita. Bukan kuat kita sendiri! Percayalah bahwa kasih Kristus sudah dicurahkan bagi kita. Jadi, tunjukkanlah kasih Kristus bagi keluarga Saudara!

2. Kasih KRISTUS Menjadi Teladan Untuk Mengasihi Keluarga.
Seperti halnya rasul Yohanes (Yoh 13:34), rasul Paulus menegaskan bahwa kasih Kristus harus menjadi teladan bagi setiap anggota keluarga. Mari kita teladani kasih Kristus bagi gerejaNya seperti yang dijelaskan Paulus dalam Efesus 5:25-27.

a. Kasih Kristus, kasih yang berkorban (25).
Hendaknya setiap anggota keluarga mengasihi dengan pengorbanan, seperti Kristus! sekalipun Dia adalah Allah, Dia rela menjadi manusia dan mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita. Kasih Kristus mengajarkan kita berani berkorban, tidak egois, mementingkan orang lain. Bagaimana dengan Saudara?

b. Kasih Kristus, kasih tanpa pamrih (25-26).
Kebanyak orang mengasihi karena orang lain mengasihi. Tetapi kasih Kristus memberikan teladan supaya kita mengasihi “walaupun orang tersebut..” Ingatlah bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib meskipun kita tidak layak untuk diselamatkan. Kita masih berdosa dan hina dihadapanNya, namun Dia tetap mengasihi dan menyelamatkan kita (Band. Roma 5:8).

c. Kasih Kristus, kasih dalam kebenaran.

Kasih yang diteladankan Kristus adalah kasih dalam kebenaran. Tujuannya supaya jemaat kudus dan tak bercacat dihadapanNya. Demikian kita harus mengasihi dalam kebenaran. Disiplin yang berasal dari kebenaran firman Allah harus ditegakkan dan dijalankan dalam kehidupan berkeluarga.

d. Kasih Kristus, kasih yang selalu menginginkan
yang terbaik terjadi bagi orang lain (ayat 27).
Hendaknya setiap anggota keluarga memikirkan dan giat mengerjakan apa yang yang terbaik bagi seluruh anggota keluarganya. Jika ini dilakukan, maka tidak ada pertengkaran yang dibiarkan berlarut-larut dan kebencian tidak mungkin bertumbuh dalam keluarga yang meneladani kasih Kristus.

Selamat menikmati kebahagiaan dan berkat keluarga yang disediakan Allah, saat kita dasarkan kehidupan berkeluarga di atas kasih Kristus. Sekali lagi selamat berbahagia, keluarga Allah!


Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 20 Juni 2010

PEPERANGAN ROHANI

EFESUS 6:10-12

GAMBARAN GEREJA DALAM SURAT EFESUS!
Paling tidak ada 5 gambaran tentang gereja dalam surat Efesus. Pertama, gereja digambarkan sebagai tubuh Kristus (1:22-23 band. 4:15-16). Kristus adalah kepala jemaat dan gereja adalah tubuhNya. Kedua, gereja digambarkan sebagai keluarga Allah (2:19). Ketiga, gereja digambarkan sebagai bait Allah, dimana Kristus adalah batu penjurunya (2:21-22). Keempat, gereja adalah mempelai perempuan Tuhan (5:22-33). Kristus-lah Mempelai Pria sorga bagi gereja! Terakhir, gereja digambarkan sebagai tentara Allah! (6:10-20).

SAUDARA ADALAH TENTARA ALLAH!
Ini yang dituliskan rasul Paulus, bahwa Saudara semua, yang percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, adalah tentara-tentara Allah! Dan kita berada dalam peperangan rohani. Tidak ada tempat untuk bersantai! Dalam Efesus 6:10-12 ini rasul Paulus memberikan kita 3 kunci kemenangan dalam peperangan rohani.

1. KETAHUILAH MUSUH SAUDARA! (ayat 12)
Mengetahui siapa musuh kita, bagaimana strateginya, kekuatannya dan senjatanya adalah sebuah langkah yang bijaksana untuk memenangkan sebuah peperangan! Siapa Musuh Kita?
A. Iblis (lihat ayat 10).
Musuh kita bukanlah “darah dan daging”, artinya musuh kita bukanlah manusia! Bukan sesama jemaat ataupun orang-orang yang belum percaya pada Tuhan Yesus! Tetapi Iblis-lah musuh kita. Iblis adalah malaikat Tuhan yang sudah jatuh dalam dosa. Ia adalah malaikat ciptaan Tuhan. Itu sebabnya Iblis TIDAK SETARA dengan Allah! Berikutnya, Iblis sebenarnya SUDAH kalah oleh kematian Tuhan kita, Yesus Kristus (Ibrani 2:14). Sebab itu jangan takut, tetapi juga jangan kita meremehkannya dan tidak waspada!
B. Pembantu-pembantu Iblis (ayat 12).
Rasul Paulus menyebut pembantu-pembantu Iblis ini sebagai “pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia dan roh-roh jahat di udara”. Mereka adalah roh-roh jahat, yaitu malaikat-malaikat yang turut mengikut Iblis saat dia jatuh dalam dosa. Mereka inilah yang tersebar menjadi ‘kaki tangan’ Iblis untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan.
Lalu bagaimana strategi Iblis dalam peperangan rohani? Sebenarnya strategi Iblis tetap sama, tidak ada yang berubah sejak dulu! Senjata dan strategi utamanya adalah TIPU MUSLIHAT! Sejak di taman Eden Iblis menipu Hawa dan Adam (Kajedian 3). Dan seterusnya dia menipu anak-anak Tuhan hingga masa kini. Jangan mau ditipu Iblis! Belajarlah dan tetaplah dalam kebenaran Firman Tuhan sehingga kita kuat di dalam Kristus.

2. JADILAH KUAT DALAM TUHAN! (ayat 12)
Tuhan memerintahkan kita suapaya menjadi kuat di dalam kuasaNya. Artinya, Tuhan sendiri sudah menyediakan kekuatan kuasaNya bagi kita. Kita tinggal ‘menerima’ kekuatanNya. Bagaimana caranya? Pertama, percaya bahwa Tuhan Yesus SUDAH menyediakan kekuatan kuasaNya dan dengan percaya pula terimalah kekuatan kuasaNya! Bukankah Roh Kudus tinggal dalam hidup kita, orang-orang yang percaya kepadaNya? Kedua, dekat dengan Tuhan Yesus. Dengan bersekutu dalam doa, pujian dan membaca Alkitab serta beribadah, kita menerima kekuatan kuasa Tuhan yang luar biasa! Jadi, mulailah bersekutu dengan Tuhan Yesus dan jadilah kuat!

3. KENAKANLAH SELURUH PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH! (ayat 12)
Mau menang dalam peperangan rohani? Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah! Tuhan tidak memerintahkan kita mencari sendiri atau membuat senjata, tetapi Dia memerintahkan kita untuk mengenakannya! Sebab Tuhan Yesus sendiri sudah menyediakan seluruh perlengkapan senjata untuk berkemenangan. Kekalahaan anak-anak Tuhan dalam peperangan rohani melawan kuasa gelap bukanlah kurang senjata, tetapi MALAS menggunakan perlengkapan senjata Allah ini! Mari kita bersemangat, rajin dan berdungguh-sungguh menggunakan senjata Allah yang sudah disiapkanNya bagi kita. Doa, baca Alkitab, beritakan Injil, setia dan kesungguhan! Niscaya kita, oleh kuasa dan kekuatan Tuhan Yesus selalu berkemenangan.
Akhirnya, apabila kita ingin menang dalam peperangan rohani dalam kehidupan kita mari kita ketahui siapa musuh kita, jadilah kuat dalam Tuhan Yesus dan kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah. Selamat berkemenangan di dalam Tuhan Yesus!


Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 06 Juni 2010

JANGAN MENDUKAKAN ROH KUDUS

EFESUS 14:22-32

Siapa yang suka dibuat sedih? Demikian juga Roh Kudus! Rasul Paulus mengingatkan jemaat Efesus supaya tidak mendukakan Roh Kudus! Mendukakan dari kata dasar Yunani lupeo, yang diartikan membuat sedih, terjemahaan KJV menggunakan istilah grieve. Ada beberapa kebenaran yang diajarkan kita tentang mendukakan Roh Kudus.

I. BEBERAPA ALASAN KITA TIDAK BOLEH MENDUKAKAN ROH KUDUS
Mengapa kita tidak boleh mendukakan Roh Kudus? Ada beberapa alasan yang Paulus sampaikan bagi kita. Pertama, karena Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang nyata dan hidup! Perhatikan bahwa Roh Kudus dijelaskan Paulus sebagai pribadi yang memiliki perasaan. Dia dapat didukakan! Jadi, jangan mendukakan hatiNya! Selanjutnya Roh Kudus adalah Allah. Jika kita mempercayai bahwa Dia adalah Allah, tidakkah sudah selayaknya kita menyenangkan hatiNya? Roh Kudus adalah Allah yang seharusnya kita hormati, taati dan ‘senangkan’. Kedua, Karena Roh Kudus adalah meterai bagi kita untuk menerima janji Allah pada hari penyelamatan (band. Efesus 1:13-14). Ketika kita percaya Tuhan Yesus, saat itulah Roh Kudus tinggal dalam hidup kita dan memeteraikan janji keselamatan Allah dalam hidup kita! Roh Kudus meterai yang menunjukkan bahwa kita miliki Kristus dan jaminan untuk menerima bagian kekal yang dijanjikan Allah saat hari penyelamatan tiba! Jadi, jangan mendukakan Roh Kudus yang jelas-jelas menjadikan kita milik Tuhan Yesus dan menjamin warisan kekal dalam Kristus kelak.

II. BAGAIMANA KITA MENDUKAKAN ROH KUDUS?
“Ah, Saya tidak pernah tahu kapan Roh Kudus sedih dan didukakan kok!” Nah, Paulus juga menjelaskan bagaimana kita dapat mendukakan hati Roh Kudus! Perhatikan konteks nats ini, Efesus 4 ini berbicara tentang manusia baru di dalam Tuhan Yesus. Sebagai ciptaan baru dalam Tuhan Yesus, yaitu orang yang percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadinya, sudah seharusnya hidup sebagai manusia baru bukan manusia lama! Paulus mendesak jemaat supaya meninggalkan perbuatan-perbuatan manusia lama, yaitu perbuatan dosa! Jadi, kita dapat mendukakan Roh Kudus apabila kita masih hidup sebagai manusia lama dengan perbuatan-perbuatan dosa yang kita lakukan. Apa saja perbuatan manusia lama itu? Dusta (ayat 25), amarah (ayat 26-27), mencuri (ayat 28), berkata-kata kotor (ayat 29), kepahitan (ayat 30-31), kebencian, pertengkaran, fitnah dan segala kejahatan! Semua ini mendukakan hati Roh kudus. Apabila kita melakukan perbuatan-perbuatan manusia lama inilah kita sedang mendukakan hati Roh Kudus! Mari kita buang perbuatan-perbuatan manusia lama ini dan belajar untuk menyenangkan hati Allah yang tinggal dalam hidup kita. Hiduplah dalam kebenaran dan kekudusan Tuhan karena itulah yang menyenangkan hatiNya.

AKIBAT DARI MENDUKAKAN ROH KUDUS
Mendukakan Roh Kudus bukan hanya melukai hati Roh Allah, namun juga mendatangkan akibat! Pertama, pasti ada hukuman bagi mereka yang berbuat dosa. Benar bukan? Setiap dosa akan menerima hukuman Allah bukan? Demikian tindakan-tindakan dosa yang kita perbuat bukan hanya mendukakan Roh Kudus tetapi mendatangkan disiplin dan hukuman Allah. Lihat saja Ananias dan Safira yang mendustai Roh Kudus (Kisah para Rasul 5:1-1-6). Kedua, karya Roh Kudus ‘terhalang’ dalam hidup kita! Pada mulanya kita jelas-jelas akan kehilangan sukacita sorgawi. Lihat saja karya Roh Kudus dalam Efesus 5:18-20 Ketika kita dipenuhi Roh Kudus kita akan dipenuhi sukacitaNya! Dosa membuat hati Roh kudus sedih dan kita kehilangan sukacita dariNya! Bahkan mendukakan Roh Kudus menyebabkan tidak efektifnya pelayanan kita!

Akhirnya, jangan mendukakan hati Roh Kudus dan mari belajar menyenangkan hatiNya dengan hidup benar, membenci dosa dan setia mengasihi Dia. Bagi Tuhan Yesus kemuliaan selama-lamanya!

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Minggu, 30 Mei 2010

RAHASIA MENGALAMI MUJIZAT TUHAN

Matius 14:22-32

Sangatlah mengejutkan bahwa dalam perahu terdapat dua belas murid Tuhan Yesus, tapi hanya satu orang yang mengalami mujizat berjalan di atas air, yaitu Petrus. Sebelas murid yang lain hanya tinggal dalam perahu dan “disibukkan” dengan gelombang karena angin sakal. Demikian pula dalam sebuah gereja banyak terdapat jemaat, tetapi tidak semua jemaat mengalami mujizat Tuhan. Mengapa? Dari mujizat yang dialami Petrus, kita belajar 3 rahasia penting, bagaimana mengalami mujizat Tuhan:

I. Petrus Mempunyai Mimpi (kerinduan)

Ya, Petrus mempunyai mimpi. Mimpi untuk bisa berjalan di atas air seperti Yesus (ayat 28). Mimpi ini yang tidak dipunyai oleh sebelas murid lainnya. Untuk dapat mengalami mujizat Tuhan, kita perlu memiliki mimpi. Ingin berhasil dalam usaha, studi, masa depan? Milikilah mimpi! Terkadang orang merasa pasrah dengan kondisi hidupnya. Orang seperti ini tidak mempunyai mimpi dan tidak akan mengalami mujizat Tuhan. Milikilah mimpi dan serahkan mimpi kita kepada Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil! Ia sanggup melakukan sesuatu yang mustahil sekalipun (Yeremia 32:17)

II. Petrus Mengambil Keputusan Untuk Melangkah

Mimpi akan tinggal mimpi, bila tidak ada keputusan untuk melangkah. Petrus mengambil keputusan untuk melangkah, keluar dari perahu dan mencoba berjalan di atas air dan ia pun dapat berjalan di atas air seperti Yesus. Petrus mengalami mujizat! Ketika kita berani melangkah untuk menggapai mimpi, kita akan mengalami mujizat Tuhan. Sekalipun dalam peristiwa tersebut Petrus menjadi takut karena tiupan angin. Namun inilah resiko yang harus kita hadapi, ketika kita mengambil keputusan untuk melangkah. Seringkali dalam menggapai mimpi, kita mengalami kegagalan. Tetapi dari kegagalan itu pun, kita mendapat suatu pelajaran berharga untuk kita melangkah lebih baik. Kalau hari ini, kita memiliki mimpi usaha kita diberkati, mulailah mengambil langkah menemukan strategi-strategi usaha yang baik. Kalau kita memiliki mimpi menjadi orang yang berhasil dalam studi, mulalilah mengambil langkah dengan belajar sungguh-sungguh (tidak malas). Kalau kita memiliki mimpi menjadi seorang pelayan Tuhan yang diurapi, mulalilah melangkah dengan memohon urapan Tuhan dan melayani dengan sungguh-sungguh dan setia.

III. Dalam Kesulitan, Petrus Berseru kepada Yesus

Ketika Petrus menjadi takut dan kemudian mulai tenggelam, Petrus berseru kepada Yesus (ayat 30). Dalam kesulitan dan kegagalan, mari kita berseru kepada Yesus dan memohon pertolonganNya. Dan Yesus pun segera mengulurkan tanganNya untuk menolong Petrus. Tuhan selalu siap untuk menolong kita, sebab itu berserulah kepadaNya.

Jika kita rindu mengalami mujizat Tuhan dalam hidup kita; dalam rumah tangga, usaha/pekerjaan, studi, masa depan, milikilah mimpi (kerinduan), serahkan mimpi kita kepada Tuhan, karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Melangkahlah! Sekalipun ada resiko yang kita hadapi. Berserulah kepada Dia dalam kesulitan kita. Tuhan selalu ada untuk menolong kita. Tuhan Yesus memberkati.


Pdt. Henokh Wilianto, MA
(Gembala GBI Maranatha-Surabaya)

Minggu, 23 Mei 2010

MENGENAL ROH KUDUS

Kisah Para Rasul 19:1-2

Rasul Paulus melayani hingga suatu saat sampai di Efesus. Di sana ada murid-murid Tuhan, artinya, mereka adalah pengikut Tuhan Yesus melalui penginjilan Apolos. Namun mereka belum mengenal Roh Kudus, bahkan mendengar tentang ada Roh Kudus saja belum! Bagaimana dengan Saudara? Sudahkah mengenal Roh Kudus? Mengenal bukan sekedar tahu, namun memiliki relasi yang akrab dengan Roh Kudus.

SIAPAKAH ROH KUDUS?
Roh Kudus adalah Allah, Pribadi (oknum) ketiga dalam trinitas Allah. Pertama, Roh Kudus adalah Allah, bukan sekedar kuasa. Alkitab dengan tegas menjelaskan bahwa Roh Kudus pada hakekatnya adalah Allah. Dalam perintah agung-Nya, Tuhan Yesus memposisikan Roh Kudus berasama-sama dan setara dengan Allah Bapa dan Anak (yaitu diriNya sendiri - Matius 28:19-20). Sejalan dengan ini, rasul Paulus juga menempatkan Roh Kudus sebagai Allah, setara dengan Bapa dan Tuhan Yesus Kristus dalam ‘doa berkat’ yang ditujukan kepada jemaat Korintus (2 Korintus 13:13). Jadi, Roh Kudus adalah Allah. Kedua, Roh Kudus adalah Allah yang berpribadi bukan sekedar kuasa atau tenaga aktif! Perhatikan bahwa Alkitab senantiasa menyatakan bahwa Roh Kudus adalah seorang pribadi! Tuhan Yesus menyebut Roh Kudus dengan kata ganti untuk manusia ketika menjelaskan pekerjaan Roh Kudus, Penghibur yang akan diutusNya (Yohanes 14:25-26). Dan lagi Alkitab menunjukkan karya atau pekerjaan Roh Kudus adalah tindakan-tindakan yang hanya dapat dilakukan oleh seorang pribadi bukan sekedar tenaga! Pribadi berarti memiliki akal (intelektual), perasaan dan kehendak. Dan Roh Kudus memilikinya! Misalnya dalam Yohanes 14:25-26, tindakan Roh Kudus menunjukkan Dia adalah Pribadi Allah. Roh Kudus diutus, mengajar dan mengingatkan. Rasul Petrus menyebutkan bahwa Roh Kudus dapat didustai dan sekaligus menghakimi yang berdusta padaNya (Kisah Para Rasul 5:1-6). Rasul Paulus dalam Efesus 4:30 mengingatkan agar jemaat Efesus tidak mendukakan hati Roh Kudus. Roh Kudus dapat didukacitakan menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi. Ya, Roh Kudus adalah pribadi Allah!

BAGAIMANA SIKAP YANG SEHARUSNYA TERHADAP ROH KUDUS?

Setelah mengetahui bahwa Roh Kudus adalah pribadi Allah, bagaimana sikap yang seharusnya kita tunjukkan kepada Allah Roh Kudus? Paling tidak ada tiga sikap yang sudah seharusnya ada pada kita sebagai orang yang mengenal Roh Kudus.

1. Menghormati Roh Kudus!
Jika kita sudah mengenal Roh Kudus adalah pribadi Allah, maka sikap yang pertama adalah menghormati Roh Kudus. Pertama, nyatakan rasa hormat kita pada Roh Kudus dalam ibadah! Memuji dan menyembah dengan kesungguhan, tidak bermain-main dengan ibadah, mendengar firman dengan sungguh-sungguh adalah sikap-sikap menghormati kehadiranNya. Kedua, menghormati Roh Kudus harusnya di mana saja. Ingat bahwa Dia adalah Allah, maka Dia Mahahadir! Bahkan Dia tinggal di dalam orang percaya selama-lamanya (Yohanes 14:16-17 band. 1 Korintus 6:19). Mari menghormati Roh Kudus dengan tidak mendukacitakan hatiNya dan hidup dalam kekudusan di mana saja dan kapan saja.


2. Menaati dan Dipenuhi Oleh Roh Kudus.
Jika Roh Kudus adalah pribadi Allah, maka kita harus menaatiNya, seperti kita menaati apa yang diajarkan Kristus! Dan memang Roh Kudusmengajarkan apa yang dikatakan Tuhan Yesus (Yohanes 1414:25-26 band. 16:12-15). Rasul Paulus memerintahkan agar kita memberikan diri untuk dipenuhi Roh Kudus terus-menerus (Efesus 5:18). Injinkan Roh Kudus menguasai hidup kita untuk melakukan firman Tuhan!


3. Membangun Relasi Yang Karib Dengan Roh Kudus.
“Mengenal bukan sekedar tahu” itu sebabnya bangunlah persekutuan yang erat dengan Roh Kudus. Dia Allah yang berpribadi. Perhatikan bahwa jemaat mula-mula memiliki relasi yang begitu erat dengan Roh Kudus. Mereka mengalami Roh Kudus (Kisah Para Rasul 19:6). Bahkan Roh Kudus ‘membisiki’ jemaat untuk menasehati Paulus agar tidak ke Yerusalem dahulu (Kisah para Rasul 21:4). Tentu saja, hubungan yang akrab dengan Roh Kudus bukan usaha untuk ‘dengar-dengar’ suara Roh Kudus. Perhatikan bahwa Roh Kudus yang membisiki jemaat bukan jemaat yang ‘minta-minta’ dibisiki! Membangun persekutuan yang erat dengan Roh Kudus adalah membangun persekutuan dengan Dia dalam pujian, penyembahan dan doa, membaca dan merenungkan firman Tuhan (Alkitab) setiap hari. Mulailah dari sekarang dan jangan terkejut apabila kuasa Roh Kudus nyata dalam hidup Saudara!

Mau mengenal Roh Kudus lebih dalam? Hormati, taati, rindukan kepenuhan Roh Kudus terus menerus dan bangun persekutuan dengan Dia setiap hari. Dia menantikan Saudara!

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Alasan Tidak Membayar Perpuluhan

Tiga orang yang berbeda profesi sedang berdiskusi soal perpuluhan. Mereka masing-masing mengemukakan alasan mengapa mereka belum membayar perpuluhan.

Akuntan: Saya belum membayar perpuluhan karena belum menerima surat tagihan dari Tuhan.

Pengacara: Kalau saya belum membayar perpuluhan karena belum ada undang-undang yang mengaturnya.

Bankir: Saya sih sudah lama mau membayar perpuluhan, tapi sampai sekarang saya belum tahu nomor rekening Tuhan.

cabe deeeh....

ALBUM KENANGAN