Selamat datang di www.wartamaranatha.blogspot.com - Memberitakan Injil dan Mendewasakan Kerohanian

Minggu, 17 Oktober 2010

MENJADI KAYA, MAU?

(STUDI MENGENAI KEKAYAAN MENURUT KITAB AMSAL)

Menjadi kaya merupakan keinginan semua orang. Tidak ada orang yang tidak mau kaya. Bahkan segala usaha dilakukan supaya menjadi kaya. Namun untuk menjadi kaya ada hal-hal penting yang harus diperhatikan. Dan Kitab Amsal memberikan kepada kita rahasia bagaimana menjadi kaya yang sesuai dengan firman Tuhan.

Hal Pertama Yang Harus Kita Ketahui:
Inilah hal pertama yang harus bagi Saudara yang mau kaya, ketahui Keinginan untuk cepat menjadi kaya adalah perkara yang dilarang Tuhan (Ams 28:20; 23:4-5). Tuhan melarang apabila:
a. Ada nafsu / desire untuk menjadi kaya (band. Terjemahan KJV dan NIV).
b. Bahaya menghalalkan segala cara.
Rasul Paulus juga mengingatkan kita agar jangan “ingin kaya” dan mengejar uang (I Tim 6:6-10), karena berakibat:
- Terjatuh dalam pencobaan, jerat nafsu yang hampa dan mencelakakan dan membinasakan.
- Menyimpang dari iman
- Menyiksa diri dalam berbagai-bagai duka.

RAHASIA MENJADI KAYA MENURUT KITAB AMSAL
I. Menyadari Bahwa Tuhan Adalah Sumber Berkat (Ams 10:22; 22:2)
Tuhanlah yang menjadikan kita kaya. Dia berdaulat menjadikan kaya dan miskin. Dan hal ini menunjukkan dua hal, yang pertama, menolak segala usaha (bekerja) dengan mengandalkan kekuatan sendiri tanpa Allah! Kalau kita menyadari bahwa Tuhan-lah sumber berkat, maka kita seharusnya bekerja segiatnya dengan mengandalkan Tuhan. Kedua, ini menolak paham fatalisme dimana kalau seseorang miskin, ini karena nasibnya memang jadi orang miskin. Benar Tuhan-lah yang berdaulat, tetapi siapa yang tahu nasib (keputusan akhir)? Tidak ada kan? Sebab itu Tuhan juga mengajarkan kita untuk bekerja segiatnya dan bergantung kepada Tuhan.

II. Rajinlah Bekerja (Ams 10:4)
Tuhan memberkati orang-orang yang rajin bekerja. Kemalasan hanya menghasilkan kemiskinan. Tuhan memberi contoh binatang semut yang rajin dalam bekerja yaitu mengumpulkan makanan (6:6-11). Rajin bekerja tidak sama dengan gila kerja. Orang yang gila kerja tidak memperdulikan waktu-waktu dalam hidupnya (waktu untuk beribadah, keluarga, istirahat, dst), yang penting bekerja. Jelas bukan ini yang dimaksud dengan ‘rajin bekerja’! Masih ingat slogan “ora et labora” yang artinya berdoa dan bekerja? Jelas bahwa sekalipun kerajianan penting, namun berdoa dan ibadah kepada Tuhan harus menjadi prioritas utama kita (bandingkan dengan bagian I).

III. Jangan Pelit (Ams11:24-27)
Sumbat kelimpahan dari Tuhan adalah kekikiran! (Ams 28:22). Seringkali kita tidak diberkati Tuhan karena kita kikir atau pelit. Amsal berkata bahwa ada yang menyebar harta justru kelimpahan, tetapi yang pelit akan menjadi kekurangan dalam hidupnya. Jangan pelit! Pertama, jangan pelit kepada Tuhan. Kembalikan persepuluhan, yang adalah milik Tuhan. Bukankah Allah berjanji untuk membuka tingkap-tingkap langit dan memberkati kita? (Maleakhi 3:10). Mari belajar memberikan persembahan syukur persembahan bagi pekerjaan Tuhan, pembangunan dan bagi para hamba Tuhan. Siapa banyak menabur akan menuai bukan? (Ams 3:9-11). Memberi persembahan juga tidak perlu m
enunggu kita diberkati limpah, namun melalui berkat yang ada, kita belajar memberi persembahan kepada Tuhan dan Tuhan Yesus pasti memberkati kita. Kedua, tidak pelit pada sesama. Mari kita belajar memberi sesama, saudara seiman yang kekurangan, sesama yang membutuhkan pertolongan, yang sakit dan membutuhkan bantuan. Dan lihatlah bagaimana Tuhan memberkati kita dengan limpah!

IV. Belajar Mengatur Keuangan (Ams 13:11)
Kebocoran dalam hal keuangan kita seringkali karena TIDAK DAPAT MENGATUR keuangan kita dengan baik dan benar. Penulis Amsal dengan jelas mengajar untuk mengatur keuangan dengan baik dan benar. Dahulukan milik Allah, yaitu persepuluhan, baru kemudian kebutuhan pokok kita dan baru hal-hal yant tidak pokok dan akhirnya harus menabung! Ini susunan prioritasnya. Jadi, berhemat adalah perlu. Tetapi perlu diingat bahwa hemat tidak sama dengan kikir/pelit. Jangan kita konsumtif (suuka belanja bahkan yang tidak perlu atau yang tidak kita butuhkan). Juga jangan berfoya-foya (Ams 21:17). Terakhir, menabunglah karena menabung adalah bagian dari mengatur keuangan yang baik. Kita harus belajar menabung dengan demikian menempatkan diri sebagai orang yang bijak (13:1).

V. Hiduplah Takut Akan Tuhan (Ams 22:4; 28:20)
Kekayaan merupakan janji (berkat) Tuhan bagi orang yang takut akan Dia. Sikap takut akan Tuhan harus nyata waktu kita bekerja! Misalnya bekerja dengan jujur, tidak korupsi uang perusahaan, bekerja dengan giat sekalipun majikan tidak ada di tempat dan sikap-sikap benar yang lain yang merupakan wujud rasa takut kita kepada Tuihan Yesus (Lihat ayat-ayat praktis yang menegaskan sikap takut aan Tuhan dalam bekerja ini: Ams 10:2; 21:6; 13:22; 22:16). Takut akan Tuhan juga harus nyata dalam mengelola keuangan. Jangan tidak jujur terhadap Tuhan. Ingin diberkati denngan limpah? Takutlah akan Tuhan kita, Yesus Kristus.

Akhirnya, lakukanlah prinsip Alkitab dan lihatlah bagaimana Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Pemberkat memberkati kita dengan limpah dalam segala kemurahanNya.

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Alasan Tidak Membayar Perpuluhan

Tiga orang yang berbeda profesi sedang berdiskusi soal perpuluhan. Mereka masing-masing mengemukakan alasan mengapa mereka belum membayar perpuluhan.

Akuntan: Saya belum membayar perpuluhan karena belum menerima surat tagihan dari Tuhan.

Pengacara: Kalau saya belum membayar perpuluhan karena belum ada undang-undang yang mengaturnya.

Bankir: Saya sih sudah lama mau membayar perpuluhan, tapi sampai sekarang saya belum tahu nomor rekening Tuhan.

cabe deeeh....

ALBUM KENANGAN